Kamu Punya Suaramu Sendiri

“Kapan lulus?”

“Kapan kerja?”

“Kapan nikah?”

“Kapan punya anak?”

Suara-suara itu barangkali pernah atau saat ini sedang menggelayut di dinding ruang batinmu. Semakin lama semakin terasa beratnya. Menekan rongga dada, mempersempit ruang nafasmu. Hingga seolah kamu tak menemukan ruang lagi bagi kondisimu saat ini untuk dimengerti.

Baca selebihnya »

Tony Ferguson

Saat remaja dulu, saya suka sekali dengan karakter anime bernama Kenshin Himura. Karakter utama dari serial anime Rurouni Kenshin ini, sangat populer di tahun 2000-an. Kenshin sangat mahir dalam teknik pedang. Bisa dibilang dia yang terbaik, tak terkalahkan hingga lintas generasi.

Ada yang sangat saya suka dari cara Kenshin bertarung. Di tengah pertarungan, ia punya kebiasaan ‘berdiskusi’ dengan dirinya sendiri, seperti sedang mencari titik lemah lawan, menganalisis gerakan mereka, untuk kemudian digunakan sebagai senjata ampuh melakukan serangan balik.Baca selebihnya »

Tak Mengapa Jadi Orang Biasa

Adalah hal yang wajar sebagai manusia kita mengejar keunggulan. Unggul, berprestasi, menjadi istimewa, menjadi luar biasa adalah hal yang alamiah kita suka. Saya yakin, kita semua juga dibesarkan untuk mencapai itu semua. Berapa banyak dari kita sejak kecil percaya, bahwa sebenarnya, jauh di dalam diri kita, kita adalah juara, kita adalah orang yang luar biasa, hanya saja belum terlihat, belum muncul ke permukaan karena kurangnya usaha? Berapa banyak dari kita percaya, pribadi yang saat ini ada sebagai orang biasa, adalah bukan diri kita yang sebenarnya?Baca selebihnya »

Asiknya Menikah dengan yang Seumuran

Beberapa diantara kita mungkin pernah diberi nasehat, jika kita menikah nanti, baiknya tidak memilih yang seumuran. Jika kalian pria, pilihlah yang lebih muda, jika kalian wanita, pilihlah yang lebih tua. Paling tidak, selisih umur kalian berada antara 3-5 tahun. Alasan yang dikemukakan, biasanya, karena perkembangan psikologis dan biologis pria dan wanita tidak berjalan berbarengan. Jika kalian seumuran, yang pria tidak akan bisa mengimbangi kedewasaan pasangan wanitanya, si wanita, seiring mereka menua nanti, juga tidak akan bisa mengimbangi kebutuhan biologis si pria.Baca selebihnya »

Skandal Sang Pangeran

Siapa yang tidak tahu tahu tentang Perang Jawa? Perang yang dikobarkan oleh seorang Pangeran Mataram yang berlangsung selama 5 tahun itu (1825 s.d. 1830) telah mampu membuat keuangan Belanda bangkrut. Sebesar 25 juta gulden melayang untuk membiayai perang besar itu, memaksa Belanda harus meminjam uang ke Bank Palmer di Calcuta, India, dengan Pulau Jawa sebagai jaminannya. Soal jumlah korban, tak tanggung-tanggung, lebih dari 15 ribu serdadu Belanda tewas, diperkirakan 200 ribu orang Jawa gugur, populasi penduduk Yogyakarta saat itu bahkan tinggal separuh, seperempat lahan pertanian yang ada hancur porak-poranda.

Dialah yang bergelar Ingkang jumeneng Kanjeng Sultan Ngabdul Khamid Erucakra Kabirul Mukminin Sayidin Panatagama Khalifah Rasullah s.a.w. ing Tanah Jawi — Dia yang bertahta, Yang Mulia Sultan Abdul Hamid, Ratu Adil, Perdana di antara Kaum Beriman, Pemimpin Iman, Penata Agama, Khalifahnya Rasul Allah, semoga damai bagi-Nya di Tanah Jawa. Kita lebih mengenal pemimpin Perang Jawa ini dengan gelar pangerannya ketika di Keraton Yogyakarta, yaitu Pangeran Diponegoro.Baca selebihnya »

Pelarangan Kantong Plastik, Sudah Cukupkah?

Sejak ditemukan 113 tahun yang lalu oleh Ilmuwan Belgia, Leo Hendrik Baekeland, plastik telah menjadi bagian penting dalam kehidupan kita sehari-hari.  Sebelumnya, 13 sampai 17 pohon harus ditebang untuk membuat 1 ton tas kertas1 – itu baru untuk membuat tas, belum untuk membuat barang-barang rumah tangga yang lain. Sedangkan plastik jauh lebih hemat, material dan energi yang dibutuhkan jauh lebih sedikit, belum lagi sifatnya yang kuat dan tahan lama menjadikan plastik lebih dipilih dibandingkan material yang lain. Tak heran, ketika itu, penemuan plastik dielu-elukan sebagai penemuan yang akan menyelamatkan bumi dari eksplorasi besar-besaran manusia.Baca selebihnya »

Mengapa mereka membully ?

Gambar ini diambil dari halaman republika.co.id

Baru-baru ini kita dihebohkan oleh sebuah video di media sosial tentang tindakan perundungan (bullying) beberapa pemuda terhadap seorang remaja penjual Jalangkote di Pangkep, Sulawesi Selatan.

Kita semua sangat sedih, bahkan geram, melihat peristiwa itu terjadi. Lebih lagi ketika kita mengetahui bahwa ternyata tindakan perundungan itu sudah mereka lakukan sebelumnya berulang-ulang kali.

Dalam video yang berdurasi hampir 2 menit itu, si remaja yang sedang berjualan mengendarai sepeda dikejutkan, dikejar, dan didorong hingga jatuh tersungkur bersama Jalangkote yang ia jual. Tidak cukup disitu, diiringi gelak tawa dan ejekan dari teman-temannya yang lain, salah satu dari mereka bahkan memukul kepala si remaja hingga ia terjatuh kembali.

Kita kemudian bertanya-tanya, apa sebenarnya yang mendorong para pelaku, yang notabene masih berusia muda, tega melakukan tindakan itu? Bagaimana bisa mereka terlihat menikmati dan bangga dengan penindasan yang mereka lakukan itu? Apakah mereka semua itu manusia yang normal? ataukah ada kelainan dalam kesehatan mental mereka?Baca selebihnya »

Paradoks Tradisi Ngopi dan Produktivitas Kerja

Gambar diambil dari halaman ajnn.net

Beungoh singoh geutanyoe jep kupi di keude Meulaboh atawa ulon akan syahid”. Besok pagi kita akan minum kopi di Meulaboh atau aku akan syahid adalah perkataan yang sangat masyhur dari Teuku Umar sesaat sebelum menghadapi serangan Belanda di Kota Meulaboh. Kata “jep kupi” dalam perkataan itu, tampaknya cukup menjadi bukti bahwa minum kopi telah menjadi tradisi di Aceh sejak dulu. Kini, tampak tak ada yang berkurang, minum kopi bahkan semakin digandrungi masyarakat Aceh seiring dengan banyaknya penelitian yang membuktikan manfaat minum kopi bagi kesehatan, kreatifitas, dan produktivitas kerja.

Tidak bermaksud meragukan hasil penelitian diatas, tapi saya yakin selalu ada kondisi dimana manfaat dari sesuatu tidak dapat diraih manakala sesuatu itu dilakukan secara “berlebihan”. Tak terkecuali juga dengan minum kopi (ngopi), alih-alih manfaat, ternyata justru mudharat yang didapat. “Berlebihan” disini tidak hanya mengenai intensitas/frekuensi ngopi saja, tetapi lebih luas lagi mengenai pola dan kebiasaan turunan dari ngopi itu sendiri. Dalam hal pengaruh kopi terhadap produktivitas kerja misalnya, pola ngopi yang ada selama ini dikhawatirkan tidak mampu membuktikan adanya manfaat kopi bagi produktivitas kerja. Bukannya produktivitas, justru rasa malas yang terlihat. Beberapa pola dan kebiasaan turunan ngopi yang “berlebihan” tersebut diantaranya:Baca selebihnya »