Lelaki yang Pulang dengan Selamat

Aku mendengar kisah lelaki ini dalam sebuah perjalanan kereta api dari Sragen menuju Bandung. Saat itu, di awal tahun 2017 aku berjumpa dengannya. Entah di bulan Januari atau Februari, aku tak begitu ingat lagi kapan tepatnya. Yang kuingat pasti saat itu adalah masa-masa dimana ‘urusanku’ di Bandung sudah hampir selesai. Seorang laki-laki berusia sekitar 50-an tahun-dalam perkiraanku, menyapa, meminta ijin menaruh tasnya di rak bagasi di atasku, menandakan ia adalah teman seperjalananku sore hingga malam itu. Lelaki ini berperawakan kecil, memakai topi, berjaket kulit dan bersepatu boots. Penampilan yang cukup eksentrik untuk lelaki seusianya. Kami pun berkenalan, mengobrol, hingga suasana semakin akrab dan terbuka.

Baca selebihnya »

Tak Punya Teman

Orang baik punya banyak teman, begitu yang sering kita dengar. Murah senyum, supel, asik diajak ngobrol, plus pandai membuat candaan, tak dipungkiri bisa mendatangkan segudang teman buat kita. Tapi benarkah ‘teman’ yang akan datang? Ataukah sekedar orang kebanyakan yang intuitif merespon keramahan kita dengan sikap yang ramah juga?Baca selebihnya »

2 Tahun Tinggal di Kota Petro Dollar

Setelah 6 tahun tinggal di Dataran Tinggi Gayo yang jauh dari hingar bingar keramaian, oleh pimpinan tempatku bekerja, akhirnya aku dipindahkan ke Kota. Bukan kota besar seperti Jakarta, Medan, atau Surabaya, hanya sebuah kota kecil, tapi bagi orang sepertiku yang kesehariannya hanya melihat gunung, sungai dan hutan, kota yang satu ini sudah lebih dari cukup mengobati kejenuhanku saat itu. Oh ya, bagi kalian yang ingin mengetahui pengalamanku di tanah Gayo, kalian bisa membaca tulisanku sebelumnya yang berjudul 6 Tahun Tinggal di Daerah yang Berjuluk Negeri 1000 Bukit.Baca selebihnya »

Perenang Olimpiade yang ‘Tidak Bisa’ Berenang

Eric tak pernah membayangkan jika ada kolam renang dengan ukuran yang sangat besar seperti yang ia lihat kini. Kolam itu paling tidak berukuran panjang 50 meter dikelilingi dengan bangku penonton yang tak terhitung jumlahnya, membuat kolam itu berada tepat di tengah, menjadi pusat perhatian seluruh penonton yang akan melihatnya berkompetisi beberapa hari lagi. Eric memang diberitahu bahwa ia akan berkompetisi pada cabang 100 meter gaya bebas pria, tapi tak pernah sekali dalam hidupnya menyangka, kolam renang dimana ia akan berkompetisi akan sebesar itu. Ia beberapa bulan ini hanya berlatih di kolam dengan ukuran panjang 12 meter, sebuah kolam renang hotel, satu-satunya yang bisa ia temukan di negaranya, Guneia Equator.Baca selebihnya »

Orang Eksak, Menulis, dan Komunitas Blogger

Menulis bagi saya adalah proses belajar. Belajar membebaskan pikiran dan perasaan, mengabadikan momen dan ingatan yang berkesan. Menulis bisa menjadi hal yang sangat mudah bagi seseorang tapi menjadi momok yang menakutkan bagi orang-orang tertentu. Kata orang, mereka yang bergelut dibidang eksak cenderung memiliki kesulitan menuangkan ide dan gagasannya dalam bentuk tulisan ketimbang mereka yang bergelut dibidang non eksak. Wajarlah…Tak perlu dipertanyakan lagi, bagi mereka yang bergelut dibidang sastra atau bahasa misalnya, menulis seolah-olah sudah menjadi kemampuan intuitif mereka, sedangkan bagi orang statistics seperti saya, menulis sungguh menjadi perkara rumit, njlimet dan menguras banyak energi… 😆

Meskipun menjadi sesuatu yang sulit, saya menyadari pentingnya menulis bagi statistisi seperti saya. Kemampuan mengolah data yang baik akan menjadi ‘kurang bernilai’ jika tidak diimbangi dengan kemampuan menuliskan analisis yang renyah, ringan, jauh dari kesan formal dan ilmiah, sehingga mudah dipahami oleh pembaca dari berbagai kalangan.Baca selebihnya »

Operasi Kista Gigi dengan BPJS (Sebuah Pengalaman Pribadi)

Kalian lihat gelumbung hitam dibawah tiga geraham paling belakang itu?
Itulah kistanya temans..Ngeri kan..?!

Operasi kista gigi ini saya alami pada awal bulan Januari 2020 yang lalu. Kisahnya bermula di sekitar pertengahan bulan September 2019. Saat itu, gusi di sekitar gigi geraham yang dulu pernah saya tambal bengkak disertai rasa nyut-nyut yang tak tertahankan. Saya kemudian memeriksakannya ke klinik gigi di kantor saya. Pikir saya kalau nanti harus dicabut, paling tidak proses perawatan dan operasinya bisa sembari kerja, tidak perlu berkali-kali ijin ke atasan karena harus bolak-balik ke rumah sakit. Dan ternyata benar, oleh dokternya saya diberitahu bahwa sebaiknya gigi geraham saya ini dicabut saja karena tambalannya sudah rusak dan kondisi gigi tidak memungkinkan lagi untuk dilakukannya penambalan ulang. Saya kemudian diminta foto rontgen gigi di Pramita Lab Pasar Baru yang terletak tidak begitu jauh dari kantor, karena di klinik kantor saya tidak memiliki alat foto rontgen gigi. Saya ingat saat itu membayar sebesar 266 ribu rupiah untuk foto rontgen gigi tersebut.Baca selebihnya »