Kamu Punya Suaramu Sendiri

“Kapan lulus?”

“Kapan kerja?”

“Kapan nikah?”

“Kapan punya anak?”

Suara-suara itu barangkali pernah atau saat ini sedang menggelayut di dinding ruang batinmu. Semakin lama semakin terasa beratnya. Menekan rongga dada, mempersempit ruang nafasmu. Hingga seolah kamu tak menemukan ruang lagi bagi kondisimu saat ini untuk dimengerti.

Baca selebihnya »

Lelaki yang Pulang dengan Selamat

Aku mendengar kisah lelaki ini dalam sebuah perjalanan kereta api dari Sragen menuju Bandung. Saat itu, di awal tahun 2017 aku berjumpa dengannya. Entah di bulan Januari atau Februari, aku tak begitu ingat lagi kapan tepatnya. Yang kuingat pasti saat itu adalah masa-masa dimana ‘urusanku’ di Bandung sudah hampir selesai. Seorang laki-laki berusia sekitar 50-an tahun-dalam perkiraanku, menyapa, meminta ijin menaruh tasnya di rak bagasi di atasku, menandakan ia adalah teman seperjalananku sore hingga malam itu. Lelaki ini berperawakan kecil, memakai topi, berjaket kulit dan bersepatu boots. Penampilan yang cukup eksentrik untuk lelaki seusianya. Kami pun berkenalan, mengobrol, hingga suasana semakin akrab dan terbuka.

Baca selebihnya »

Tony Ferguson

Saat remaja dulu, saya suka sekali dengan karakter anime bernama Kenshin Himura. Karakter utama dari serial anime Rurouni Kenshin ini, sangat populer di tahun 2000-an. Kenshin sangat mahir dalam teknik pedang. Bisa dibilang dia yang terbaik, tak terkalahkan hingga lintas generasi.

Ada yang sangat saya suka dari cara Kenshin bertarung. Di tengah pertarungan, ia punya kebiasaan ‘berdiskusi’ dengan dirinya sendiri, seperti sedang mencari titik lemah lawan, menganalisis gerakan mereka, untuk kemudian digunakan sebagai senjata ampuh melakukan serangan balik.Baca selebihnya »

[Review] Go Set A Watchman-Harper Lee

Kesalahan. Barangkali kata itu yang tepat untuk menggambarkan suasana hati saya ketika membaca novel ini. Bukan pada novelnya yang pasti. Berani sekali orang biasa seperti saya ini menyematkan karya Harper Lee dengan sebuah kata “kesalahan”. Tapi kesalahan itu ada pada saya yang membaca novel ini tanpa membaca novel pendahulunya yang tersohor itu, yaitu To Kill a Mockingbird. Akhirnya saya sempat kesusahan, lemot mencerna isi dan gambaran karakter tokoh di novel ini. Seperti membaca novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata, tanpa membaca Laskar Pelangi terlebih dahulu, jika kalian ingin tahu rasanya.

Sekali layar terkembang, surut kita berpantang. Sekali sudah buka novel untuk dibaca, pantang kita berhenti di tengah halaman. Dan ya, akhirnya selesai juga dengan novel terjemahan setebal 286 halaman ini.

Go Set a Watchman adalah naskah pertama yang diajukan Harper Lee kepada penerbit sebelum To Kill a Mockingbird, yang memenangi Pulitzer. Novel ini berkisah tentang Jean Louise Finch yang tengah pulang berlibur ke kampung halamannya di Maycomb County. Jean Louise menemukan bahwa kampung halamannya kini sudah banyak mengalami perubahan, begitu juga orang-orang di dalamnya. Banyak sekali adegan-adegan kilas balik di tengah obrolan para tokoh di novel ini, yang kalau kita tidak fokus membacanya, justru menyulitkan kita memahami isi novel. Dari Adegan kilas balik ini, saya mengetahui kenapa Jean Louise begitu kecewa melihat ayahnya, Atticus Finch, dan temannya, Henry, duduk dalam satu barisan bersama dengan Dewan Kota di sebuah pertemuan yang secara membabi buta merendahkan ras kulit hitam di sana. Ternyata sejak kecil, Jean dididik Atticus untuk tidak melihat manusia dari warna kulitnya. Mereka bahkan juga memiliki asisten rumah tangga seorang kulit hitam, bernama Calpurnia, yang sudah dianggap seperti keluarga mereka sendiri. Kedekatan Cal (sapaan dekat Calpurnia) dengan keluarga Finch dapat kalian lihat ketika Jean kecil tengah kebingungan, mengira dirinya hamil hanya gara-gara dicium oleh teman laki-laki di sekolahnya. Kebingungannya saat itu sempat membuat Jean kecil frustasi hingga mencoba untuk bunuh diri. Di saat itulah Cal hadir, menjadi pengganti ibu Jean yang sudah tiada, memberikan pendidikan seksual kepada Jean yang saat itu masih lugu dan polos.

Konflik di novel ini saya kira adalah tentang bagaimana pandangan-pandangan baik Jean kepada ayahnya runtuh begitu saja setelah melihat kejadian di pertemuan bersama Dewan Kota itu. Bagaimana Jean menyadari bahwa ayahnya juga manusia biasa yang harus berkompromi dengan keadaan. Bagaimana Jean menyadari bahwa dunia tak seindah seperti doktrin yang Atticus tanamkan padanya saat kecil. Bagaimana Jean menyadari bahwa diskriminasi warna kulit memang ada dan sulit bagi Jean mengabaikannya. Dan terakhir, bagaimana kini, Calpurnia mengambil jarak dengan Jean dan hanya menganggapnya sebagai wanita kulit putih kebanyakan.

Meskipun Go Set a Watchman ini seperti kelanjutan dari novel To Kill a Mockingbird, tapi dari informasi yang saya dapatkan, novel ini disusun lebih dulu dan menjadi pondasi bagi disusunnya To Kill a Mockingbird. Naskah Go Set a Watchman sendiri sempat hilang hampir selama 60 tahun dan ijin diterbitkannya novel ini pun menjadi kontroversial karena Harper Lee yang telah dalam kondisi sulit melihat dan mendengar ‘dipaksa’ menandatangi persetujuan penerbitan novel ini.

Rumor di atas membuat saya semakin penasaran dengan To Kill a Mockingbird. Ingin tahu banget seperti apa novel yang menjadikan Harper Lee, salah satunya, sebagai penulis Amerika paling berpengaruh di Abad 20.

Jadi yuk, berburu!

Mengenal Dasar-Dasar R Programming

Saya bukan programmer, mengerti soal IT (Information Technology) pun tidak. Sehingga terkait R ini, saya lebih suka mendefinisikannya secara sederhana saja, yaitu R sebagai sebuah ‘alat’ untuk mengekplorasi data statistik menjadi informasi yang lebih mudah dibaca. Tidak menggunakan tombol dan menu instan seperti SPSS atau aplikasi pengolahan statistik lain, yang tinggal klik langsung jadi, tetapi dengan memasukkan sejumlah kode/sintaks kemudian mengeksekusinya, mirip seperti yang dilakukan oleh seorang progammer.Baca selebihnya »

Tak Mengapa Jadi Orang Biasa

Adalah hal yang wajar sebagai manusia kita mengejar keunggulan. Unggul, berprestasi, menjadi istimewa, menjadi luar biasa adalah hal yang alamiah kita suka. Saya yakin, kita semua juga dibesarkan untuk mencapai itu semua. Berapa banyak dari kita sejak kecil percaya, bahwa sebenarnya, jauh di dalam diri kita, kita adalah juara, kita adalah orang yang luar biasa, hanya saja belum terlihat, belum muncul ke permukaan karena kurangnya usaha? Berapa banyak dari kita percaya, pribadi yang saat ini ada sebagai orang biasa, adalah bukan diri kita yang sebenarnya?Baca selebihnya »

[Sinopsis] The Professor and The Madman

Siapa yang tidak tahu dengan The Oxford English Dictionary? Kamus bahasa Inggris terbitan Oxford University ini memang berbeda dari kamus bahasa Inggris yang lain. Perbedaannya terletak pada kelengkapan kosakatanya, pemaparan makna yang dilengkapi dengan kronologi sejarah, hingga catatan kakinya yang berasal dari berbagai sumber, baik dari buku sastra klasik maupun berbagai literatur lainnya.

Tapi percayakah kalian, penyusun kamus fenomenal ini, salah satunya, adalah ‘orang gila’?Baca selebihnya »

Asiknya Menikah dengan yang Seumuran

Beberapa diantara kita mungkin pernah diberi nasehat, jika kita menikah nanti, baiknya tidak memilih yang seumuran. Jika kalian pria, pilihlah yang lebih muda, jika kalian wanita, pilihlah yang lebih tua. Paling tidak, selisih umur kalian berada antara 3-5 tahun. Alasan yang dikemukakan, biasanya, karena perkembangan psikologis dan biologis pria dan wanita tidak berjalan berbarengan. Jika kalian seumuran, yang pria tidak akan bisa mengimbangi kedewasaan pasangan wanitanya, si wanita, seiring mereka menua nanti, juga tidak akan bisa mengimbangi kebutuhan biologis si pria.Baca selebihnya »

2 Tahun Tinggal di Kota Petro Dollar

Setelah 6 tahun tinggal di Dataran Tinggi Gayo yang jauh dari hingar bingar keramaian, oleh pimpinan tempatku bekerja, akhirnya aku dipindahkan ke Kota. Bukan kota besar seperti Jakarta, Medan, atau Surabaya, hanya sebuah kota kecil, tapi bagi orang sepertiku yang kesehariannya hanya melihat gunung, sungai dan hutan, kota yang satu ini sudah lebih dari cukup mengobati kejenuhanku saat itu. Oh ya, bagi kalian yang ingin mengetahui pengalamanku di tanah Gayo, kalian bisa membaca tulisanku sebelumnya yang berjudul 6 Tahun Tinggal di Daerah yang Berjuluk Negeri 1000 Bukit.Baca selebihnya »

Perenang Olimpiade yang ‘Tidak Bisa’ Berenang

Eric tak pernah membayangkan jika ada kolam renang dengan ukuran yang sangat besar seperti yang ia lihat kini. Kolam itu paling tidak berukuran panjang 50 meter dikelilingi dengan bangku penonton yang tak terhitung jumlahnya, membuat kolam itu berada tepat di tengah, menjadi pusat perhatian seluruh penonton yang akan melihatnya berkompetisi beberapa hari lagi. Eric memang diberitahu bahwa ia akan berkompetisi pada cabang 100 meter gaya bebas pria, tapi tak pernah sekali dalam hidupnya menyangka, kolam renang dimana ia akan berkompetisi akan sebesar itu. Ia beberapa bulan ini hanya berlatih di kolam dengan ukuran panjang 12 meter, sebuah kolam renang hotel, satu-satunya yang bisa ia temukan di negaranya, Guneia Equator.Baca selebihnya »