Kamu Punya Suaramu Sendiri

“Kapan lulus?”

“Kapan kerja?”

“Kapan nikah?”

“Kapan punya anak?”

Suara-suara itu barangkali pernah atau saat ini sedang menggelayut di dinding ruang batinmu. Semakin lama semakin terasa beratnya. Menekan rongga dada, mempersempit ruang nafasmu. Hingga seolah kamu tak menemukan ruang lagi bagi kondisimu saat ini untuk dimengerti.

Bumi yang luas, terasa begitu sempit. Ingin sekali pergi menjauh, tak mendengar lagi pertanyaan ’empati’ mereka yang justru menyiksamu.

“Kapan mereka akan berhenti bertanya seperti itu?”, teriakmu.

Kesalahan sebagian besar orang adalah terbiasa mengukur sepatu orang lain dengan ukuran kaki mereka. Merasa setiap orang harus memiliki pencapaian yang sama layaknya orang lain pada umumnya. Mereka lupa setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Punya jamnya sendiri yang berbeda dengan jam orang lain. Seseorang mungkin saja mencapai kesuksesan di usia belia, tapi boleh jadi seseorang yang lain mencapainya di usia yang sudah senja. Hanya karena belum mencapainya, bukan berarti bahwa seseorang itu telah gagal. Ia hanya belum sampai di waktunya saja. Waktu yang sangat pas dan tepat dirancang Tuhan untuk kita.

Bagimu suara-suara itu terasa sangat mengganggu. Menjelma seperti pertanyaan di ujian sekolah yang harus kamu jawab dengan tepat. Padahal memang tak ada jawab untuk kesemua pertanyaan itu. Paling parah adalah ketika suara-suara itu mulai mendektemu untuk merasa bahagia atau tidak dengan kondisimu itu. Kamu mulai kesulitan memilah mana yang suara dan keinginan hatimu, mana yang suara dan keinginan orang lain. Suara-suara menjadi bercampur, gaduh tidak karuan.

Tak ada di dunia ini, manusia yang diciptakan dengan fisik, emosi, kecerdasan yang persis sama. Begitu juga dengan lingkungan tempatnya berkarya. Sekali lagi percayalah, kamu punya waktumu sendiri! Berhenti membandingkan dirimu dengan orang lain. Kamu berharap suara-suara itu berhenti? Ayolah…ini hidup, kawan! Jangan berharap semua harus terjadi sesuai keinginanmu. Suara-suara itu akan terus ada selama nafas masih menyertaimu.

Tapi kamu punya suara. Iya. Kamu punya suaramu sendiri, yang mungkin terdengar lirih di sela-sela suara yang gaduh itu. Kamu hanya perlu belajar mendengarkan lebih peka lagi. Memilah satu demi satu dari sekian banyak suara-suara lain yang mengganggu itu.

Hingga saat dirimu telah semakin jelas mendengar suaramu sendiri. Kamu akan semakin yakin bahwa tak ada masalah dengan dirimu.

“Aku baik-baik saja.”

“Aku akan mengisi hariku bukan dengan mencari jawab atas pertanyaan-pertanyaan itu, tetapi dengan bersyukur, berkarya, dan berbuat baik kepada sesama.”

Kamu berharap mereka tak lagi mengurusi privasimu? Masalahnya, suara-suara itu kadang datang dari orang-orang terdekatmu. Orang yang memiliki saham terbesar bagi berdirinya hidupmu. Orang yang oleh masyarakat diklaim pantas untuk mencampuri urusan pribadimu. Ayahmu, ibumu, saudaramu, atau teman karibmu.

Karenanya tak perlu menuntut mereka untuk bijak. Tapi rubahlah responmu atas tanya-tanya mereka. Katakan:

“Aku akan sampai di sana, insyaallah.”

“Pada waktu dan cara yang terbaik untukku!”

__________________________

*Sumber gambar: merdeka.com

4 pemikiran pada “Kamu Punya Suaramu Sendiri

  1. Kadang heran sama orang-orang yang terlalu sering nanya kayak gitu, seolah-olah mereka nggak mau tau kalau hal itu sangat sensitif bagi sebagian besar orang. Seolah-olah mereka lupa bahwa sebelumnya mereka juga pernah berada di posisi yang sama.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Menulikan telinga, menebalkan muka, membebalkan hati, sepertinya sangat penting untuk tetap waras dalam menanggapi hal serupa. Intinya tetap maju setiap harinya meski cuma se-senti. Nikmati prosesnya. InsyaAllah kita juga akan sampai di sana, di sukses versi kita.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s