Lelaki yang Pulang dengan Selamat

Aku mendengar kisah lelaki ini dalam sebuah perjalanan kereta api dari Sragen menuju Bandung. Saat itu, di awal tahun 2017 aku berjumpa dengannya. Entah di bulan Januari atau Februari, aku tak begitu ingat lagi kapan tepatnya. Yang kuingat pasti saat itu adalah masa-masa dimana ‘urusanku’ di Bandung sudah hampir selesai. Seorang laki-laki berusia sekitar 50-an tahun-dalam perkiraanku, menyapa, meminta ijin menaruh tasnya di rak bagasi di atasku, menandakan ia adalah teman seperjalananku sore hingga malam itu. Lelaki ini berperawakan kecil, memakai topi, berjaket kulit dan bersepatu boots. Penampilan yang cukup eksentrik untuk lelaki seusianya. Kami pun berkenalan, mengobrol, hingga suasana semakin akrab dan terbuka.

“Mas tadi bilang, kerja di Aceh ya?”, Ia memastikan. “Tahu kilang Arun di Lhokseumawe, pasti ya?”

“Iya, tahu Pak”, Jawabku.

“Saya pernah ke sana Mas, bekerja beberapa hari di sana, menjadi teknisi di kilang itu.”

Obrolan itu, dan beberapa obrolan berikutnya membuat aku tahu bahwa pekerjaan Bapak ini adalah sebagai teknisi tangki pada kilang eksplorasi minyak dan gas bumi. Menghabiskan sebagian besar waktunya sebagai orang lapangan, dari kilang satu ke kilang yang lain adalah rutinitasnya dulu sebelum Ia kini pensiun. Ketika itu, hampir seluruh kilang minyak dan gas bumi yang ada di Indonesia pernah Ia singgahi. Tak heran Ia bisa mengenal Kilang Arun Lhokseumawe, padahal kilang gas bumi satu ini berukuran relatif kecil, tak banyak orang tahu, dibandingkan kilang lain yang berukuran jauh lebih besar, seperti Blok Cepu atau Blok Mahakam misalnya.

“Keluarga tinggal dimana saat itu, Pak?”, tanyaku.

“Anak dan istri saya di Bandung, Mas.” “Saya pulang setiap selesai project“. “Saya memperoleh pekerjaan itu sejak muda, sejak masih bujang dulu.”

Seketika itu, aku mengasosiasikan diriku dengannya. Kami sama-sama orang Jawa yang harus merantau, berpisah dengan anak-istri, atas nama pekerjaan. Meski Ia jelas pada posisi yang lebih sulit dariku. Walaupun merantau, aku berdiam di satu tempat, sedang Dia harus berpindah dari satu project ke project lain. Dengan berbagai tantangan di lapangan yang pastinya tidak sedikit yang harus Ia hadapi.

Malam datang, kami berdua semakin asyik bertukar cerita dan pengalaman. Sepanjang obrolan kami, aku berkesimpulan Bapak ini bukanlah lelaki yang DNA-nya menyukai petualangan dan pekerjaan lapangan. Tubuhnya yang kecil dan kurus seolah menjadi hal yang pantas jika Ia lebih menyukai pekerjaan kantoran, pekerjaan di belakang meja. Tapi hidup berkata lain, Ia harus bertahan bertahun-tahun lamanya semata-mata demi anak dan istrinya.

Telah banyak yang Ia alami. Pernah suatu ketika saat Ia dan satu orang temannya tiba di salah satu terminal di Surabaya, beberapa orang preman menghadang mereka berdua. Memaksa mereka memberikan seluruh barang berharga yang mereka bawa. Ia, ketika itu sebenarnya sudah hendak menyerah, tapi temannya justru membuat kesalahan dengan mencoba melawan preman-preman itu. Temannya itu tertusuk, Ia pun ikut melawan, mengarahkan tinju dan tendangannya membabi buta tak terarah, hingga salah satu tendangan kaki bersepatu bootsnya mengenai salah satu preman, preman itu kesakitan, membuat Ia memiliki kesempatan untuk lari. Ia pun berlari sekencang-kencangnya, meninggalkan teman dan seluruh barang bawaannya. Ia selamat berkat sepatu boots yang dikenakannya. Sejak saat itu, Ia tak pernah bepergian kecuali dengan memakai sepatu boots berujung besi, seperti yang Ia pakai sekarang ini.

Pernah juga, maut hampir saja merenggutnya ketika Ia bersama rombongan menaiki kapal kecil menuju kilang di perairan lepas di laut Kalimantan. Tiba-tiba alarm tanda bahaya berbunyi, menandakan ada yang tidak beres dengan kapal yang mereka tumpangi. Setiap penumpang ketakutan, dengan panik berpacu mengambil pelampung sebelum didahului oleh penumpang yang lain. Bersyukur Ia mendapatkan satu pelampung. Didekapnya pelampung itu di dadanya.

Tapi teman yang duduk di hadapannya gagal mendapatkan pelampung. temannya itu panik tak karuan, menjerit-jerit histeris, meminta Ia diberikan pelampung. Matanya yang panik dan terus mencari, tak sengaja berhenti pada pelampung yang didekap Bapak, teman seperjalananku itu. Direbutnya paksa pelampung itu dari dekapannya. Bapak itu dipukul beberapa kali, Ia kalah mempertahankan pelampungnya. Kehilangan satu-satunya harapan menyelamatkan diri, jika kapal harus tenggelam nantinya.

“Saya syok saat itu, Mas.” “Padahal sebelum kejadian itu, Ia teman yang menyenangkan, banyak mengobrol sama saya di kapal sepanjang perjalanan itu.” Cerita Bapak itu, menjelaskan kepadaku bahwa teman kadang bisa menjadi mahluk yang menakutkan ketika kepanikan melanda.

Cerita tak berakhir di situ saja. Di udara, maut ternyata pernah juga ‘bercanda’ padanya. Perjalanan menggunakan helikopter berjalan lancar seperti biasa. Helikopter telah berada pada posisi mendarat di landasan sebuah kilang lepas pantai. Hingga tiba-tiba heli berputar-putar tak tentu arah, suara mesin terdengar menjadi aneh. Ini tak seperti biasanya. Heli akan jatuh. Pikirnya.

Seluruh penumpang berpegangan kuat, pada besi, bangku, dan apa saja yang mereka bisa pegang. Ya Allah, apakah ini saatnya? setelah beberapa kali selamat dari peristiwa seperti ini, Ia pasrah jika memang ini saatnya.

Helikopter masih berputar-putar, turun (lebih tepatnya disebut: jatuh) dengan kecepatan tinggi. Berdebam menghantam landasan heli di kilang lepas pantai itu.

Bapak itu bercerita dengan sesekali menatapku dengan mata berair. Ada perasaan lega yang saya tangkap, karena pada akhirnya Ia bisa melalui semua itu. Ia sudah pensiun, tak lagi bersentuhan dengan ancaman-ancaman di lapangan seperti itu lagi. Perasaannya pun tenang karena, insyaallah, telah menyediakan nafkah yang cukup untuk istri dan masa depan kedua anaknya. Anaknya yang tertua bahkan sudah berkuliah di Surabaya. Ia, beberapa hari yang lalu dalam rangka menjenguk anaknya itu dan kini dalam perjalanan pulang ke Bandung.

Kisah pengalaman Bapak ini, seperti dihadirkan Allah Swt untukku yang saat itu merasa bernasib buruk jika dibandingkan teman-teman seangkatanku yang sudah banyak berhasil pindah ke Jawa, membersamai keluarganya. Sedangkan aku hanya memperoleh satu setengah tahun ini pulang ke Jawa, itu pun atas nama Tugas Belajar.

Ada seperti tetesan air yang menyirami panasnya hatiku, yang saat itu terbakar cemburu melihat nasib baik teman-temanku, ketika mendengar akhir cerita pengalaman Bapak itu. Darinya aku belajar bahwa: Tak apalah jika harus bekerja jauh dari anak dan istri, asalkan mereka dalam keadaan sehat dan baik. Asalkan rumah tangga kita tetap sakinah. Asalkan kita tetap bisa pulang ke keluarga kita dengan selamat.

Iya. Asalkan kita bisa pulang ke keluarga kita dengan selamat.

Kami berdua turun di stasiun akhir, Stasiun Kiaracondong, pada dini hari sekitar pukul setengah tiga saat itu. Dari belakang kulihat Bapak itu menaiki taksi yang banyak ditawarkan di jalan seputaran stasiun. Ia tersenyum melambai padaku. Senang. Pulang menuju keluarga yang selama ini menjadi alasannya untuk selalu kuat bertahan.

2 pemikiran pada “Lelaki yang Pulang dengan Selamat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s