Tony Ferguson

Saat remaja dulu, saya suka sekali dengan karakter anime bernama Kenshin Himura. Karakter utama dari serial anime Rurouni Kenshin ini, sangat populer di tahun 2000-an. Kenshin sangat mahir dalam teknik pedang. Bisa dibilang dia yang terbaik, tak terkalahkan hingga lintas generasi.

Ada yang sangat saya suka dari cara Kenshin bertarung. Di tengah pertarungan, ia punya kebiasaan ‘berdiskusi’ dengan dirinya sendiri, seperti sedang mencari titik lemah lawan, menganalisis gerakan mereka, untuk kemudian digunakan sebagai senjata ampuh melakukan serangan balik.

Kebiasaan seperti itu, tentu hanya bisa terjadi di film atau anime saja. Di pertarungan nyata, yang seperti itu mustahil bisa dilakukan. Tapi sebenarnya, yang ingin disampaikan adalah bahwa di tengah pengalamannya yang mumpuni sebagai seorang samurai tak tertandingi, tidak menjadikan Kenshin besar hati. Ia tahu bahwa lawan-lawannya bukanlah berasal dari samurai di era-nya dulu. Ia tahu, soal teknik pedang, lawan-lawannya kini telah setara atau bahkan lebih hebat dari dirinya. Kini, tak cukup hanya mengandalkan teknik berpedang saja, ia harus beradaptasi. Ia harus menjadi petarung yang cerdas.

Ada petarung di dunia nyata yang memiliki reputasi hebat seperti Khensin. Hanya saja dia tidak bertarung seperti Khensin bertarung. Dia, menurut saya adalah Tony Ferguson.

Tony Ferguson bukanlah petarung yang cerdas. Kalian boleh menyebutnya seorang kesatria, tapi tidak sebagai petarung yang cerdas. Dua pertarungan terakhirnya melawan Justin Gaethje dan Charles Oliveira membuktikan hal itu.

Dalam ajang UFC 249 melawan Gaethje 6 bulan yang lalu, setelah pertarungan berjalan 3 ronde, tampak seluruh strike yang dilancarkannya tak bisa ‘menyentuh’ Gaethje. Justru ia menjadi bulan-bulanan Gaethje lewat pukulan cepat dan akuratnya ke arah muka Tony. Tapi Tony tetap saja mempertahankan gaya bertarungnya yang berani itu, mengandalkan tinju, endurance, dan kreasi serangan yang semua sudah dibaca oleh Gaethje. Mengira rekor 12 kemenangan beruntun bisa ia dapatkan lagi, malah di akhir ronde ke-5, ia harus menelan pil pahit ketika wasit harus menghentikan pertarungan, disebabkan sepanjang ronde, Tony terus menerima pukulan telak di kepala dari Gaethje tanpa bisa berbuat banyak.

Malam itu Tony tercatat menerima lebih dari 100 kali pukulan di wajah hingga harus memperoleh perawatan intensif di fasilitas kesehatan. Sedangkan Gaethje, berhasil memecahkan rekor sebagai petarung dengan strike paling akurat di satu pertandingan dalam sejarah UFC.

Di ajang UFC 256 kemarin, hal yang sama juga dilakukan Tony ketika menghadapi ahli BJJ dari Brazil, Charles Oliveira. Ia kewalahan dengan takedown Oliveira yang dilakukan berkali-kali terhadapnya. Lengannya bahkan hampir putus jika bel tidak berbunyi, menghentikan armbar dari Oliveira.

Saya terkadang heran bagaimana bisa petarung profesional seperti Tony bisa tidak perdulinya dengan strategi, seolah-olah bertarung hanya mengandalkan ketrampilan beladiri saja untuk menang di ajang dunia. Sementara yang lain sudah sangat sadar pentingnya strategi (baca:otak) dalam pertarungan yang terkenal sangat mengandalkan otot ini.

Sikap Tony dan tim pelatihnya yang seperti itu, menurut saya adalah sikap sombong yang sebenarnya dari atlet beladiri campuran. Sombong bagi mereka saya kira dialamatkan bukan ketika mereka melakukan trash talk di press conference atau saling adu pukul ketika prosesi face off. Tapi ketika mereka menganggap remeh lawan hingga membuat mereka minim persiapan menghadapi lawan-lawan mereka. Dan itu harus dibayar mahal oleh Tony Ferguson. Karirnya kini sudah tamat.

2 pemikiran pada “Tony Ferguson

  1. Nggak paham soal gulat ato dunia petarung, tapi pernah bedialog dengan salah seorang kenalan yang juga petarung amatir. Dia bilang pentingnya mengetahui karakter lawan sebelum naik ring bisa bikin beberapa opsi pola pertarungan yang mungkin berguna memperbesar peluang menang.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s