[Review] Go Set A Watchman-Harper Lee

Kesalahan. Barangkali kata itu yang tepat untuk menggambarkan suasana hati saya ketika membaca novel ini. Bukan pada novelnya yang pasti. Berani sekali orang biasa seperti saya ini menyematkan karya Harper Lee dengan sebuah kata “kesalahan”. Tapi kesalahan itu ada pada saya yang membaca novel ini tanpa membaca novel pendahulunya yang tersohor itu, yaitu To Kill a Mockingbird. Akhirnya saya sempat kesusahan, lemot mencerna isi dan gambaran karakter tokoh di novel ini. Seperti membaca novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata, tanpa membaca Laskar Pelangi terlebih dahulu, jika kalian ingin tahu rasanya.

Sekali layar terkembang, surut kita berpantang. Sekali sudah buka novel untuk dibaca, pantang kita berhenti di tengah halaman. Dan ya, akhirnya selesai juga dengan novel terjemahan setebal 286 halaman ini.

Go Set a Watchman adalah naskah pertama yang diajukan Harper Lee kepada penerbit sebelum To Kill a Mockingbird, yang memenangi Pulitzer. Novel ini berkisah tentang Jean Louise Finch yang tengah pulang berlibur ke kampung halamannya di Maycomb County. Jean Louise menemukan bahwa kampung halamannya kini sudah banyak mengalami perubahan, begitu juga orang-orang di dalamnya. Banyak sekali adegan-adegan kilas balik di tengah obrolan para tokoh di novel ini, yang kalau kita tidak fokus membacanya, justru menyulitkan kita memahami isi novel. Dari Adegan kilas balik ini, saya mengetahui kenapa Jean Louise begitu kecewa melihat ayahnya, Atticus Finch, dan temannya, Henry, duduk dalam satu barisan bersama dengan Dewan Kota di sebuah pertemuan yang secara membabi buta merendahkan ras kulit hitam di sana. Ternyata sejak kecil, Jean dididik Atticus untuk tidak melihat manusia dari warna kulitnya. Mereka bahkan juga memiliki asisten rumah tangga seorang kulit hitam, bernama Calpurnia, yang sudah dianggap seperti keluarga mereka sendiri. Kedekatan Cal (sapaan dekat Calpurnia) dengan keluarga Finch dapat kalian lihat ketika Jean kecil tengah kebingungan, mengira dirinya hamil hanya gara-gara dicium oleh teman laki-laki di sekolahnya. Kebingungannya saat itu sempat membuat Jean kecil frustasi hingga mencoba untuk bunuh diri. Di saat itulah Cal hadir, menjadi pengganti ibu Jean yang sudah tiada, memberikan pendidikan seksual kepada Jean yang saat itu masih lugu dan polos.

Konflik di novel ini saya kira adalah tentang bagaimana pandangan-pandangan baik Jean kepada ayahnya runtuh begitu saja setelah melihat kejadian di pertemuan bersama Dewan Kota itu. Bagaimana Jean menyadari bahwa ayahnya juga manusia biasa yang harus berkompromi dengan keadaan. Bagaimana Jean menyadari bahwa dunia tak seindah seperti doktrin yang Atticus tanamkan padanya saat kecil. Bagaimana Jean menyadari bahwa diskriminasi warna kulit memang ada dan sulit bagi Jean mengabaikannya. Dan terakhir, bagaimana kini, Calpurnia mengambil jarak dengan Jean dan hanya menganggapnya sebagai wanita kulit putih kebanyakan.

Meskipun Go Set a Watchman ini seperti kelanjutan dari novel To Kill a Mockingbird, tapi dari informasi yang saya dapatkan, novel ini disusun lebih dulu dan menjadi pondasi bagi disusunnya To Kill a Mockingbird. Naskah Go Set a Watchman sendiri sempat hilang hampir selama 60 tahun dan ijin diterbitkannya novel ini pun menjadi kontroversial karena Harper Lee yang telah dalam kondisi sulit melihat dan mendengar ‘dipaksa’ menandatangi persetujuan penerbitan novel ini.

Rumor di atas membuat saya semakin penasaran dengan To Kill a Mockingbird. Ingin tahu banget seperti apa novel yang menjadikan Harper Lee, salah satunya, sebagai penulis Amerika paling berpengaruh di Abad 20.

Jadi yuk, berburu!

5 pemikiran pada “[Review] Go Set A Watchman-Harper Lee

  1. Baru tau saya dua novel ini ternyata semacam berseri, kirain stand alone. Sempat pengen baca tapi kayaknya agak berat bahasannya jadi belum dilirik lagi hehe. Nice review 👍

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s