2 Tahun Tinggal di Kota Petro Dollar

Setelah 6 tahun tinggal di Dataran Tinggi Gayo yang jauh dari hingar bingar keramaian, oleh pimpinan tempatku bekerja, akhirnya aku dipindahkan ke Kota. Bukan kota besar seperti Jakarta, Medan, atau Surabaya, hanya sebuah kota kecil, tapi bagi orang sepertiku yang kesehariannya hanya melihat gunung, sungai dan hutan, kota yang satu ini sudah lebih dari cukup mengobati kejenuhanku saat itu. Oh ya, bagi kalian yang ingin mengetahui pengalamanku di tanah Gayo, kalian bisa membaca tulisanku sebelumnya yang berjudul 6 Tahun Tinggal di Daerah yang Berjuluk Negeri 1000 Bukit.

Salah satu landmark Kota Lhokseumae
Sumber Gambar: Waspada Online

Lhokseumawe adalah nama kota, tempat bekerjaku yang baru ini. Berbeda dengan Gayo Lues yang merupakan daerah pegunungan, Lhokseumawe adalah kota pesisir di bagian timur Aceh yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka. Letak kota ini sangat strategis, berada di jalur perdagangan antara Banda Aceh dan Medan, diapit oleh 2 kota di Aceh yang tak kalah ramainya yaitu Bireuen dan Langsa. Kekayaan alam yang terkandung dalam perut kota ini pun sangat melimpah, minyak dan gas bumi adalah yang terbesar diantaranya. Perusahaan-perusahaan besar juga banyak terdapat di sana, seperti PT Arun NGL (gas bumi), PT Pelindo (pelabuhan), PT KKA (kertas), PT. Pupuk Iskandar Muda (pupuk) dan perusahaan-perusahaan besar lain, yang tidak akan kita dapati di sebagian besar kabupaten/kota di Aceh yang lain.

Kilang gas PT Arun NGL yang kini berubah nama menjadi Perta Arun Gas (PAG)
Sumber Gambar: bisnis.tempo.co

Melimpahnya sumber daya alam disertai hadirnya perusahaan-perusahaan besar menjadi motor utama penggerak roda perekonomian Lhokseumawe. Kinerja perekonomian kota ini bahkan pernah mencatatkan yang terbaik di Aceh. Kondisi itu membuat sebutan Kota Petro Dollar pun disematkan untuk kota ini.

Tapi eit…tunggu, itu dulu.

Sejak semakin menurunnya produksi PT Arun NGL di tahun 2000-an, mengakibatkan perusahaan yang bergantung pada gas ikut terkena imbas. Hingga pada sekitar tahun 2014, PT Arun NGL benar-benar menyetop produksinya dan beralih hanya pada kegiatan regasifikasi saja. Kondisi ini membuat perekonomian Lhokseumawe berangsur-angsur mengalami kemunduran.

Aku sendiri datang ke kota ini di akhir bulan Juli 2017. Bisa dibilang saat masa-masa transisi ekonomi di kota ini. Pendapatku begitu pertama kali datang ke Lhokseumawe adalah memang kota ini lebih maju dari kota-kota di Aceh yang lain, meskipun sedang tidak berada di puncak kejayaannya. Jalan yang ramai, bangunan perkantoran dengan arsitektur lama, pasar-pasar yang besar, dan sarana publik yang lebih lengkap adalah bukti kota ini pernah berada pada situasi yang gemilang. Kegemilangan itu masih bisa dicapai kembali, mengingat potensi kota ini yang luar biasa. Posisi yang strategis, potensi wisata di kawasan satelit kota dan kabar akan dibangunnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) adalah faktor yang membuat aku optimis kota ini akan bangkit kembali.

Di luar perjuangan Kota Lhokseumawe untuk bangkit dari kemunduran ekonominya, kota ini tetaplah menjadi kota yang nyaman untuk ditinggali. Setidaknya ada beberapa alasan yang bisa aku kemukakan berikut ini:

Kota yang Lengkap dengan Fasilitasnya yang Mudah Dijangkau

Simpang BPD Lhokseumawe
Sumber: Setkab.go.id

Apa yang ada di kota besar, saya kira juga ada di Lhokseumawe. Malah karena ukuran kota ini yang tidak besar, membuat berbagai fasilitasnya menjadi mudah di jangkau. Tidak seperti kota-kota besar, yang hanya untuk pergi ke ATM saja kita harus melewati jalanan ramai dan macet. Menyeberang jalan saja serasa sedang mempertaruhkan nyawa.

Serasa Sedang Berliburan Setiap Harinya

Mengajak jalan-jalan ke Pantai Ujong Blang selepas pulang bekerja

Posisinya yang menghadap Selat Malaka membuat Lhokseumawe memiliki pantai yang bersahabat, ombaknya tidak terlalu besar, asik sekali dibuat berenang. Tidak hanya pantai, kota ini juga memiliki beberapa danau kecil dan teluk yang indah, nama ‘Lhok’ sendiri dalam bahasa Aceh berarti teluk. Dan yang hebat dari semua itu adalah mudahnya mencapai ketiga bentang alam itu. Sewaktu masih di sana dulu, aku punya kebiasaan sepulang kerja, mengajak istri dan putriku bermain di pantai Ujong Blang, pantai yang hanya 5 menit tertempuh dengan sepeda motor dari tempat tinggal kami, di pusat Kota Lhokseumawe. Pemandangan pantai yang begitu mudahnya kita temui, menjadikan kita serasa sedang berliburan setiap hari.

Surga Bagi Pecinta Kopi

Putriku sedang ngafe πŸ™‚

Tak terkecuali Lhokseumawe, kafe dan warung kopi tradisional juga banyak bertaburan di sudut kota seperti halnya kota-kota di Aceh yang lain. Bedanya, kalau di Lhokseumawe, proporsi kafe atau sekedar warung kopi yang di-setting dengan nuansa modern dan gaul lebih banyak terlihat ketimbang warung kopi tradisional. Jelaslah, kan Kota πŸ˜€.

Masyarakat yang Religius dan Tahu Kapan Harus Berhibur Diri

Islamic Center Lhokseumawe
Sumber Gambar: Ajnn.net

Masjid di Lhokseumawe tak hanya banyak dan megah, tapi juga makmur. Kajian islam yang diempu oleh ustadz-ustadz S-2 bahkan doktor lulusan Timur Tengah, dengan mudah kita jumpai disana. Yang sangat saya rasakan adalah suasana religius itu tak hanya saya rasakan sebatas tembok masjid saja, tetapi tercermin di sebagian besar masyarakatnya.

Orang Lhokseumawe juga tahu kapan harus berhenti dengan rutinitas pekerjaannya untuk sekedar keluar rumah, menikmati pantai bersama keluarga. Jangan heran di sana kalian akan menemui banyak dari masyarakat dengan membawa gerobak becak khas Aceh menaikkan istri dan anak-anak mereka, berjalan-jalan seputar kota, berwisata, berhibur diri.

Itulah kota keduaku di Aceh. Setelahnya aku pindah ke kantor pusat di Jakarta dan tinggal di Depok hingga sekarang. Sangat berharap akan tiba waktunya bagiku, pindah ke Sragen, kampung halaman kami, menetap disana hingga masa tua nanti, dan membuat tulisan semacam ini untuk Kota Depok di blog ini lagi. Insyaallah, aamiin. Doakan ya… πŸ™‚

7 pemikiran pada “2 Tahun Tinggal di Kota Petro Dollar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s