Perenang Olimpiade yang ‘Tidak Bisa’ Berenang

Eric tak pernah membayangkan jika ada kolam renang dengan ukuran yang sangat besar seperti yang ia lihat kini. Kolam itu paling tidak berukuran panjang 50 meter dikelilingi dengan bangku penonton yang tak terhitung jumlahnya, membuat kolam itu berada tepat di tengah, menjadi pusat perhatian seluruh penonton yang akan melihatnya berkompetisi beberapa hari lagi. Eric memang diberitahu bahwa ia akan berkompetisi pada cabang 100 meter gaya bebas pria, tapi tak pernah sekali dalam hidupnya menyangka, kolam renang dimana ia akan berkompetisi akan sebesar itu. Ia beberapa bulan ini hanya berlatih di kolam dengan ukuran panjang 12 meter, sebuah kolam renang hotel, satu-satunya yang bisa ia temukan di negaranya, Guneia Equator.

Setiap 4 tahun sekali, Komite Olimpiade akan menerbitkan ‘Kartu Liar’, untuk negara-negara berkembang yang tak mampu memenuhi persyaratan kualifikasi atletnya, sehingga bisa mengikuti ajang olahraga terbesar di dunia itu dengan ‘cuma-cuma’. Tujuannya untuk memotivasi negara-negara berkembang itu mencetak atletnya secara lebih baik, disamping ingin berbagi kemeriahan ‘pesta’ negara-negara besar di ajang empat tahunan itu. Ketika mendengar berita adanya Kartu Liar itu, Eric dengan lugunya mengajukan diri mewakili negaranya.

Takjub, takut, minder, menyesal, semua perasaan itu berkumpul dalam hati Eric, tapi yang lebih banyak tentu perasaan takut. Bukan takut kalah, karena menurutnya itu sudah pasti, tapi takut jika ia membuat sesuatu yang membuatnya dan negaranya ditertawakan oleh seisi stadion megah itu. Apalagi kemarin, saat ia berlatih, mencoba kolam besar itu, seluruh mata atlet dan pelatih dari negara lain yang juga sedang berlatih, tertuju padanya. Mereka heran dengan cara Eric berenang, salah seorang atlet kemudian memberanikan diri mendekati Eric dan mengatakan: “Kawan, saya kira kamu ‘tidak bisa’ berenang.”

Orang lain mungkin akan menyerah berada dalam situasi itu. Cidera saat sesi pelatihan, akan menjadi alasan yang masuk akal bagi seorang atlet untuk membatalkan keikutsertaannya dalam kompetisi, yang dalam kasus Eric, membatalkan dipermalukannya dia di depan umum, di depan mata dunia. Tapi entah apa yang dipikirkan Eric saat itu, di hari-H berlangsungnya kompetisi level dunia itu, ketika namanya dan nama negaranya disebut oleh komite, ia berani tampil melambaikan tangan ke penonton layaknya seorang atlet renang profesional. Gemuruh tepuk tangan penonton pun segera terdengar, mereka tidak menyadari, pertunjukan seperti apa yang akan mereka saksikan nanti.

Detik-detik dimulainya kompetisi pun tiba. Seluruh atlet berdiri mengambil posisi masing-masing, memasang sikap siap melompat, fokus menunggu aba-aba tembakan terdengar.

Duaarrr…suara tembakan terdengar, semua atlet itu dengan sigap melompat ke kolam, meluncurkan badannya bak lumba-lumba. Tapi tunggu, tidak semua atlet, ada satu atlet yang masih berdiri gagap, terhenti dari lompatannya, dan itu adalah Eric, si atlet dari Guneia Equator, dari negara yang namanya baru terdengar oleh sebagian besar telinga penonton di stadion itu.

Peluit keras wasit pun berbunyi, para atlet yang terlanjur menceburkan badannya menghentikan renangnya, Eric nampak merasa bersalah dan malu, sudah pasti aku melakukan kesalahan, pikirnya. Tapi ada sesuatu yang aneh terjadi. Wasit justru mendiskualifikasi semua atlet yang sudah melompat ke dalam kolam, penonton pun riuh kebingungan, apa yang terjadi? kebingungan mereka terjawab ketika komite menginformasikan bahwa ternyata semua atlet itu salah mengambil posisi start, semua atlet kecuali Eric.

Komite kemudian memutuskan bahwa kompetisi tetap harus berlangsung. Dengan demikian Eric harus berenang seorang diri menyelesaikan pertandingan bergengsi itu. Penonton mulai agak kecewa, karena hasil sudah bisa diperoleh, sebelum mereka menyaksikan akhir pertandingan. Ya, tentu saja perenang dari Guneia Equator itulah pemenangnya, masa sih berenang seorang diri saja tidak bisa? Mereka, para penonton itu sungguh tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Di arena, Eric terlihat tertekan, seolah di pundaknya ditimpakan beban yang sangat berat, tubuhnya pun ia paksakan membentuk sikap siap melompat, menunggu aba-aba. Bisa menyelesaikan renangnya adalah target terbaiknya.

Duarrr…Eric melompat, menceburkan badannya ke dalam kolam, berenang, terus berenang, cipratan air di sekelilingnya yang mengeluarkan bunyi keras dan lambatnya laju tubuhnya bergerak, sebentar saja, membuat para penonton sadar, Astaga, atlet yang satu ini ternyata ‘tak bisa’ berenang. Eric terus berenang, baru akan menyudahi 50 meter pertama saja ia sudah nampak melambat, gerakannya tak beraturan, tubuhnya ‘diam’ tak terdorong oleh kayuhan tangan dan kakinya. Tapi Eric terus berenang dan berenang.

Penonton menjadi simpati atas keberanian Eric, sorak ramai memberi semangat kepadanya riuh terdengar. Hal itu dirasakan Eric, ia kini telah berhasil menempuh 50 meter pertamanya. Eric terus mengayuhkan tangan dan menggerakkan kakinya, tampak sekali ia kelelahan, sekitar 5 meter menjelang finish ia terlihat akan tenggelam, membuat seisi stadion khawatir.

Eric saat itu benar-benar membuat kejutan bagi dunia. Peristiwa seperti ini adalah momen langka dalam ajang olahraga dunia sekelas Olimpiade. Bukan dalam arti negatif, tapi justru positif. Mata dunia saat itu dibuka oleh kekuatan dan kesungguhan Eric yang luar biasa ditengah keterbatasan yang ia miliki di negaranya. Semua orang yang menyaksikan perjuangan Eric saat itu terinspirasi, bahwa bukan kemenangan yang utama dalam sebuah kompetisi, tapi adalah perjuangan yang sungguh-sungguh itulah yang utama.

Eric saat itu berhasil menyelesaikan renangnya. Ia menjadi juara dengan catatan waktu terlama dalam sejarah Olimpiade pernah diadakan. Ia mencatatkan waktu 1:52.72 untuk kelas 100 meter gaya bebas pria di Olimpiade Musim Panas di Sydney, tahun 2000 yang lalu. Oh ya, nama lengkap Eric adalah Eric Moussambani, oleh media barat ia dijuluki Eric the Eel.

8 pemikiran pada “Perenang Olimpiade yang ‘Tidak Bisa’ Berenang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s