6 Tahun Tinggal di Daerah yang Berjuluk Negeri 1000 Bukit

Gayo Lues adalah nama resmi daerah ini. Sebuah kabupaten di wilayah tengah Provinsi Aceh yang terhitung masih sangat muda. Memekarkan diri 18 tahun yang lalu dari Aceh Tenggara menjadikan daerah ini sebagai salah satu kabupaten termuda di Aceh.

Kalian pasti mengira kalau daerah ini adalah penghasil Kopi Gayo yang terkenal itu bukan?

Ehm, bukan sebenarnya…kurang tepat. Lebih tepatnya, Kopi Gayo dihasilkan oleh Kabupaten Aceh Tengah, kabupaten tetangga yang berjarak kurang lebih 150 km dari Blangkejeren, ibukota daerah ini. Entah karena faktor tanah yang kurang cocok, atau karena kurangnya dukungan pemerintah daerahnya, masyarakat Gayo Lues tidak banyak yang menanam kopi, sebagai gantinya mereka lebih banyak menanam serehwangi, kakao, dan kemiri sebagai tanaman perkebunan.

Kalian pasti juga mengira kalau daerah ini berbukit-bukit bukan? Nah…kalau ini memang benar. Karena didominasi oleh kontur perbukitan inilah, daerah ini diberi julukan sebagai Negeri Seribu Bukit.

Soal pemandangan, jangan ditanya. Kalian akan terkagum-kagum dengan keindahan alam daerah ini. Sejauh mata memandang, kalian tidak akan menemukan pemandangan kecuali bentangan alam yang hijau nan indah, hutan pinus yang berjajar rapi di sepanjang jalan, hamparan sawah dengan petak-petaknya yang indah mengikuti kontur tanah dan keelokan sungai-sungai pegunungan dengan liukan air dinginnya menambah pesona keindahan daerah ini.

Salah satu pemandangan di Gayo Lues
Sumber Gambar: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

Dikelilingi oleh ekosistem Taman Nasional Gunung Leuser menjadikan semua orang yang tinggal di daerah ini seperti pada posisi berwisata setiap harinya. Bagaimana tidak, tinggal membuka jendela rumah saja kita sudah disuguhi pemandangan indah pegunungan, yang kalau kita tinggal di jawa tidak akan mudah begitu saja kita dapatkan.

Jika kita berwisata kesana, barang dua sampai tiga hari, atau mungkin sampai satu minggu, tentunya akan sangat menyenangkan. Tapi bagaimana jika untuk tinggal disana satu tahun, dua tahun, atau bahkan bertahun-tahun?

Jawabannya akan sangat tergantung masing-masing kita. Jika daerah itu tidak hanya indah tetapi juga memiliki fasilitas publik yang lengkap, saya kira tidak akan jadi masalah. Tetapi kalau daerah yang kita kagumi keindahannya itu memiliki fasilitas yang minim dan banyak yang tidak layak, maka jika kita harus tinggal disana, keindahan alam daerah itu tidak akan menjadi hal yang kita syukuri untuk seterusnya.

Seperti itu juga yang saya rasakan di Negeri Seribu Bukit, Gayo Lues. Saya pernah tinggal disana selama kurang lebih 6 tahun. Di tahun pertama, saya merasa seperti seorang wisatawan yang bisa pergi kemana saja saya suka. Di tahun-tahun berikutnya, saya merasa seperti seorang tahanan politik yang dibuang ke pedalaman wilayah Indonesia πŸ˜†

Monumen Selamat Datang. Saat saya di sana belum dibangun monumen ini.
Sumber Gambar: Lintas Gayo

Menuju Gayo Lues adalah perjuangan tersendiri. Jika berangkat dari Banda Aceh maka akan memakan waktu sekitar 14 jam. Jika berangkat dari Medan maka akan memakan waktu 12 jam, hanya selisih 2 jam saja πŸ˜†

Pertama kali saya datang di tahun 2009. Senang dan antusias adalah perasaan yang saya rasakan, meskipun saat itu tipe transportasi satu-satunya yang tersedia adalah mobil jenis Minibus L300 yang hanya berkapasitas 11 orang, sudah lengkap dengan sopir utama dan cadangannya. Jika terlalu banyak kita membawa barang, siap-siap saja harus mau memangku barang kita itu sepanjang perjalanan, dengan rute yang berkelok-kelok tidak ada habisnya.

Melihat keindahan hutan di sekeliling kita siapa yang tidak suka? Tapi setelah bertahun-tahun disana, perjalanan pergi atau menuju Gayo Lues adalah sesuatu yang menyiksa πŸ˜† . Banyak sekali kejadian yang saya alami dalam perjalanan selama saya tinggal disana. Pernah akibat longsor yang terjadi tiba-tiba di malam hari, kami rombongan satu mobil L300 itu sampai bermalam di pinggir jalan persis disamping hutan belantara Leuser, membuat perapian, berjaga sepanjang malam menunggu alat berat datang mengeruk timbunan batu dan material longsor. Pernah juga terpaksa berjalan berkilo-kilo meter membawa semua barang bawaan akibat ada informasi alat berat akan datang, tapi 3 hari lagi, Masyaallah. Mabuk darat adalah pemandangan biasa, pengalaman terburuk saya adalah terpaksa diturunkan di sebuah hotel di Kota Takengon (itu baru setengah perjalanan), karena badan saya yang terlalu lemas, akibat seluruh isi perut habis terkuras selama di mobil. Pagi harinya saya dilarikan ke Puskesmas oleh seorang teman saya di Takengon. Haah…pengalaman luar biasa saat itu πŸ™‚

Perjalanan menuju Gayo Lues dengan material longsor yang belum dibersihkan.
Sumber Gambar: Lintas Gayo

Tinggal di Kota Blangkejeren sebenarnya enak-enak saja. Tapi sekali lagi jika harus bertahun-tahun, sindrom kebosanan akut akan segera menyerang kalian. Saat pertama kali saya datang kesana sinyal internet masih sangat lemot, untung ada warnet, dan itu satu-satunya yang ada disana. Warnet itu dibuat oleh kakak kelas saya, seorang pendatang juga, dengan modal uang dari seorang penduduk asli Gayo Lues. Lumayan saat itu, cukup membantu saya menyelesaikan tugas dari kantor dan sebagai sarana hiburan ketika bosan melanda.

Jangan sampai sakit di kota ini, karena kalau tidak, rumah sakit satu-satunya akan berjarak kurang lebih 5 km dari Kota Blangkejeren. Itu kalau kalian tinggal di ibukota kabupaten. Jika kalian tinggal di kota kecamatan misalnya, kalian bisa menempuh jarak 12 hingga 50 km hanya untuk sekali pergi berobat. Rumah sakit itu tidak didirikan di pusat populasi warga, tapi justru di sebuah kecamatan sepi bernama Dabun Gelang. Alasan pemerataan pembangunan adalah dalih pemerintah setempat jika coba dikritisi kebijakannya oleh beberapa pihak πŸ˜†

Kalian yang ingin menambah kompetensi diri harus banyak berjuang di daerah ini. Saya masih ingat saat saya bercita-cita meneruskan kuliah. Untuk test toefl saja saya harus ke Medan, menempuh perjalanan 12 jam, sepanjang perjalanan ditemani suara anak-anak ayam yang diletakkan persis di belakang kepala saya, menginap di hotel selama 2 malam di Kota Medan, kemudian kembali lagi ke Blangkejeren. Luar biasa bukan? Kalian jika ingin test toefl, saya kira tinggal keluar rumah, pergi ke bimbingan belajar bahasa inggris atau ke universitas tertentu yang menyelenggarakan test toefl, maka sudah, selesai πŸ˜†

Meskipun dengan kondisi seperti di atas, Gayo Lues tetap menjadi daerah yang selalu ada di hati saya. Banyak saudara yang saya peroleh di sana, dan sampai sekarang kami masih saling berhubungan. Masyarakat Gayo adalah masyarakat yang ramah dan lembut. Mungkin khasnya masyarakat yang tinggal di daerah dingin seperti itu ya? Mereka sangat menerima dengan siapa saja yang datang ke daerahnya, apalagi kalau yang datang itu dari Suku Jawa. Entah kenapa saya merasa masyarakat Gayo lebih suka dengan orang jawa ketimbang yang datang ke daerah mereka itu adalah orang dari Suku Aceh atau Minang.

Satu hal yang paling saya syukuri sepanjang hidup saya sekarang dan insyaallah seterusnya adalah, di tempat inilah saya bisa mengenal seseorang yang kemudian menjadi istri, pasangan hidup saya sampai sekarang. Alhamdulilah saya bersyukur atas Gayo Lues, alhamdulillah kami berdua bersyukur atas Gayo Lues πŸ™‚

Foto istri di perbatasan Gayo Lues dan Aceh Tengah πŸ™‚

21 pemikiran pada “6 Tahun Tinggal di Daerah yang Berjuluk Negeri 1000 Bukit

  1. Tinggal di kampung sehari dua hari atau seminggu itu masih enak. Lebih dari itu kebosanan mulai dirasakan. Apalagi kalau persediaan di dompet menipis… πŸ˜€

    Bagus banget pemandangan Gayo Lues ya. Keren sdh jadi penduduk d sana selama 6 tahun. Coba masih di sana, bisa nitip kopi Gayo. Eh, malah gak ada kopi Gayo di sana ya? hehe

    Keren liputannya mas.

    Disukai oleh 1 orang

  2. gayo luwes, saya baru tau kalau gayo itu sejenis kopi πŸ˜€
    ceritanya menarik dan menginspirasi, pengalaman tinggal di daerah yang indah , tiap hari melihat pemandangan indah pasti menyenangkan tapi lama lama perlu hiburan yangg lain selain pemandangan itu ya kak, seperti fasilitasnya yang kurang di kota itu. semoga kota gayo lues semakin maju ya kak. senang bisa baca tulisannya, semoga bisa saling berbagi

    salam
    sagung diah
    penulis blog nuna baper

    Disukai oleh 1 orang

  3. […] Setelah 6 tahun tinggal di Dataran Tinggi Gayo yang jauh dari hingar bingar keramaian, oleh pimpinan tempatku bekerja, akhirnya aku dipindahkan ke Kota. Bukan kota besar seperti Jakarta, Medan, atau Surabaya, hanya sebuah kota kecil, tapi bagi orang sepertiku yang kesehariannya hanya melihat gunung, sungai dan hutan, kota yang satu ini sudah lebih dari cukup mengobati kejenuhanku saat itu. Oh ya, bagi kalian yang ingin mengetahui pengalamanku di tanah Gayo, kalian bisa membaca tulisanku sebelumnya yang berjudul 6 Tahun Tinggal di Daerah yang Berjuluk Negeri 1000 Bukit. […]

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s