Ilmu Parenting dalam Novel Burlian: Si Anak Spesial

Novel ini merupakan seri pertama dari empat novel Serial Anak-anak Mamak karya Tereliye. Tiga seri yang lain adalah Pukat, Eliana, dan Amelia. Meskipun tergolong novel berseri, keempat novel ini berdiri sendiri sehingga teman-teman dapat memulai membacanya dari seri mana saja yang diinginkan. Teman-teman juga tidak harus membaca keempat-empatnya untuk mendapatkan cerita utuh dari masing-masing tokoh utama dari serial novel ini.

Burlian sendiri adalah anak ketiga dari empat bersaudara, memiliki dua orang kakak yaitu Eliana dan Pukat serta satu orang adik bernama Amelia. Burlian digambarkan berbeda dari saudaranya yang lain, ia “nakal”, pemberani, kreatif dan berjiwa petualang. Bapak dan mamaknya sejak kecil selalu membesarkan hatinya dengan menyebut ia sebagai anak yang berbeda, anak yang spesial!

Novel ini berkisah tentang pengalaman masa kecil Burlian yang penuh warna, keberanian, dan petualangan di sebuah kampung kecil di pelosok hutan Sumatera. Pengalaman-pengalaman itu seolah saling terkait dan membantu membangun karakter Burlian yang kuat searah dengan kepribadian dasar yang ia miliki.

Awalnya saya mengira novel ini hanya cocok dibaca oleh anak-anak saja, tapi setelah membacanya, saya menyadari, orang tua yang sedang memiliki anak-anak berusia remaja juga cocok membaca novel ini. Ada banyak pelajaran berharga yang bisa kita ambil, terutama tentang bagaimana cara mendidik anak yang baik ditengah keterbatasan yang ada, sebagaimana dicontohkan oleh karakter Bapak, Mamak, Pak Bin, Bakwo Dar, Nakamura-san dan karakter-karakter lain dalam novel ini. Beberapa pelajaran tersebut antara lain:

  • Memberikan Doktrin Positif

Kau spesial, Burlian.

Kau sejak dilahirkan memang berbeda, Burlian. Spesial…

Kau akan memiliki kesempatan itu, Burlian, karena kau berbeda. Sejak lahir kau memang sudah spesial.”

Sejak kecil, kalimat seperti di atas sering diucapkan Bapak dan Mamak kepada Burlian. Kalimat yang kemudian diakui Burlian menjadi mantra ampuh dalam menghadapi berbagai tantangan hidupnya. Burlian, ketika dewasa, akhirnya mengerti bahwa itu adalah cara terbaik bagi Bapak dan Mamaknya untuk menumbuhkan percaya diri, keyakinan, dan menjadi pegangan kuat setiap kali ia terbentur masalah.

Kalimat serupa juga sering diucapkan Bapak dan Mamak kepada anak-anaknya yang lain. ” Kau anak yang kuat, Amelia.” ternyata ditujukan agar Amelia yang sakit-sakitan tumbuh menjadi orang yang kuat. Bapak, Mamak juga sering bilang, “Kau anak yang pemberani, Eli.” Maka jadilah Eliana menjadi orang yang pemberani atas banyak hal. ” Kau anak yang pintar, Pukat.” Maka jadilah Pukat sepintar kalimat itu diucapkan berkali-kali sejak kecil.

  • Menemukan Momen yang Tepat untuk Memberikan Nasehat

Menasehati anak adalah perkara yang gampang-gampang susah. Terkadang anak mau mendengarkan, tapi terkadang juga nasehat kita dianggap oleh mereka seperti angin lalu. Menasehati anak di waktu atau kesempatan yang tepat dapat menjadi kunci keberhasilan orang tua menanamkan hal-hal baik pada anak.

Jika membaca novel ini, teman-teman akan menemukan peristiwa di Bab-bab awal novel ini, ketika Burlian dan Pukat ketahuan bolos sekolah. Oleh Mamak mereka kemudian “dihukum” untuk mengambil kayu bakar di hutan selama seharian penuh. Hukuman itu meskipun membuat Burlian dan Pukat menyadari betul kesalahannya tapi tidak sampai pada level memberikan pengertian kepada mereka, mencerahkan, dan menginspirasi mereka untuk tidak lagi bolos sekolah.

Kemudian teman-teman dapat melihat apa yang dilakukan Bapak sehari setelahnya. Ia mengajak Burlian dan Pukat pergi ke kebun menanam pohon sengon sembari memberikan nasehat kepada mereka berdua:

“Begitu pula sekolah, Burlian, Pukat. Sama seperti menanam pohon…Pohon masa depan kalian. Semakin banyak ditanam, semakin baik dipelihara, maka pohonnya akan semakin tinggi menjulang. Dia akan menentukan hasil apa yang akan kalian petik di masa depan, menentukan seberapa baik kalian akan menghadapi kehidupan. Kalian tidak mau seperti Bapak, Bukan? Tidak sekolah, tidak berpendidikan tidak punya pohon raksasa yang dari pucuknya kalian bisa melihat betapa luas dunia. Menjadi seseorang yang bermanfaat untuk orang banyak. Kau akan memiliki kesempatan itu, Burlian, karena kau berbeda. Sejak lahir kau memang sudah spesial. Juga kau Pukat, karena kau anak yang pintar.”

Kalimat nasehat diatas nampak lebih diterima dan membekas bagi Burlian dan Pukat karena disampaikan pada moment yang lebih tepat. Nasehat tersebut juga lebih mudah dipahami karena dianalogikan dengan aktivitas yang sedang mereka kerjakan (yaitu: menanam pohon).

  • Menggunakan Momen Bersama untuk Berbincang dan Bercerita

Banyak sekali momen bercerita (atau sekedar berbincang) dari tokoh-tokoh dewasa kepada Burlian yang dapat kita temukan dalam novel ini. Misalnya bagaimana Mamak bercerita tentang keanehan yang terjadi di hari Burlian akan dilahirkan, Bakwo Dar yang bercerita tentang masa muda Bapak dan kebijaksanaan leluhur kampung dalam menjaga hutan, Nakamura-san yang berbincang dengan Burlian layaknya teman sepantaran, bercerita tentang kebiasaan yang dia lakukan dengan putrinya sewaktu di Jepang, dan masih banyak momen perbincangan yang lain.

Berbincang dan bercerita sangat penting bagi anak. Selain dapat membangun hubungan personal dan memperkuat ikatan batin antara orang tua dan anak, berbincang/bercerita juga mampu menjadi sarana menanamkan kepribadian yang baik kepada anak.

  • Menanamkan Sifat Empati kepada Anak

Darimana datangnya sikap empati Burlian kepada teman sekelasnya, Ahmad, ketika banyak teman sekelas Ahmad yang lain justru menganggap dia sebagai orang yang aneh?

Jika teman-teman membaca novel ini, di Bab Ahmad Si Ringkih yang Hitam-1, teman-teman akan menemukan bahwa keluarga Bapak dan Mamak memang keluarga yang luar biasa di tengah keterbatasan yang mereka miliki. Keluarga ini memiliki prinsip dan nilai yang dipegang dengan kuat dan itu yang dicoba untuk ditularkan kepada anak-anak mereka.

Mamak dan Bapak memiliki kebiasaan membagi-bagikan hasil panen rambutan ke tetangga, termasuk ke Ahmad. Hal itu merupakan cara mereka untuk menanamkan rasa empati anak-anaknya terhadap lingkungan disekitar mereka. Mamak juga yang menyuruh agar Burlian yang langsung membagi-bagikan hasil panen rambutan itu ke tetangga mereka.

Tidak hanya itu, Mamak dan Bapak juga bercerita tentang kesusahan yang dialami Ahmad dan Ibunya akibat ayah Ahmad yang meninggalkan mereka begitu saja. Dengan begitu Burlian tidak mudah ikut-ikutan dengan teman sekelasnya yang lain yang ikut merundung dan menganggap Ahmad sebagai orang yang aneh. Burlian justru menjalin persahabatan dengan Ahmad, dan barangkali Burlian telah menjadi sahabat terbaik yang pernah dimiliki Ahmad.

Oh ya, satu hal yang penting dalam novel ini adalah penyajiannya yang menggunakan sudut pandang orang pertama sebagai pelaku utama, yaitu Burlian. Sehingga dengan membaca novel ini, kita para orang tua, seakan-akan bisa menyelami alam psikologis anak laki-laki usia SD tentang berbagai hal yang ia alami.

Itulah yang dapat saya bagi terkait ilmu parenting yang ada pada novel burlian ini. Semoga bermanfaat ya…

8 pemikiran pada “Ilmu Parenting dalam Novel Burlian: Si Anak Spesial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s