Operasi Kista Gigi dengan BPJS (Sebuah Pengalaman Pribadi)

Kalian lihat gelumbung hitam dibawah tiga geraham paling belakang itu?
Itulah kistanya temans..Ngeri kan..?!

Operasi kista gigi ini saya alami pada awal bulan Januari 2020 yang lalu. Kisahnya bermula di sekitar pertengahan bulan September 2019. Saat itu, gusi di sekitar gigi geraham yang dulu pernah saya tambal bengkak disertai rasa nyut-nyut yang tak tertahankan. Saya kemudian memeriksakannya ke klinik gigi di kantor saya. Pikir saya kalau nanti harus dicabut, paling tidak proses perawatan dan operasinya bisa sembari kerja, tidak perlu berkali-kali ijin ke atasan karena harus bolak-balik ke rumah sakit. Dan ternyata benar, oleh dokternya saya diberitahu bahwa sebaiknya gigi geraham saya ini dicabut saja karena tambalannya sudah rusak dan kondisi gigi tidak memungkinkan lagi untuk dilakukannya penambalan ulang. Saya kemudian diminta foto rontgen gigi di Pramita Lab Pasar Baru yang terletak tidak begitu jauh dari kantor, karena di klinik kantor saya tidak memiliki alat foto rontgen gigi. Saya ingat saat itu membayar sebesar 266 ribu rupiah untuk foto rontgen gigi tersebut.

Waktu berjalan, kebiasan menunda-nunda saya pun kambuh lagi. Saya baru menyerahkan foto gigi ke klinik kantor setelah hampir satu bulan berikutnya. Ketika saya serahkan, dokternya langsung kaget dengan hasil foto gigi saya. “Mas…Mas.. ini saya rujuk ke rumah sakit luar ya.., ini kista mas.., harus segera diambil”, kata dokter sambil menandai gelumbung hitam yang nampak jelas dari foto rontgen gigi saya dengan spidol biru. “Kemungkinan tiga gigi geraham mas nanti harus dicabut semua ya..termasuk dua gigi geraham yang sehat ini terpaksa harus dicabut”. “Haah..Tiga..Dicabut semua ?”. saya auto syok dan bingung saat itu.

Setelah bercerita dengan istri di rumah, saya mendapat penguatan dan bersemangat untuk menempuh pengobatan. “Kali ini tidak akan menunda-nunda lagi”, pikir saya. Dan perjuangan berobat pun dimulai.

Perjuangan 1: Cari Informasi Biaya Operasi

Setelah googling-googling di internet, diketahui bahwa biaya operasi pengambilan kista gigi bisa mencapai lebih dari 15 juta rupiah. “Astaghfirullah…Kalau seperti ini ya memang harus pakai BPJS”, pikir saya. Saya pun bertekad, sejelek apapun nanti pelayanan yang diberikan kepada pasien BPJS, saya harus sabar. Demi menghemat uang 15 juta rupiah, saya harus tabah dan kuat. Lumayan bisa untuk bayar sewa rumah satu tahun lagi.

Perjuangan 2: Cari Surat Rujukan

Antrian di RSUD Kota Depok
Sumber: radardepok.com

Karena saya tinggal di Depok, oleh faskes pertama, saya dirujuk ke RSUD Depok. Di rumah sakit ini luar biasa pelayanannya. Luar biasa buruk maksudnya. Masih tradisional banget teman-teman. Bahkan ga jauh beda dengan pelayanan di rumah sakit pelosok, saat saya masih dinas di Aceh dulu. Bayangkan, untuk sekali berobat saja, saya harus datang persis sebelum subuh dan pulang saat adzan maghrib hampir berkumandang. Itupun hanya untuk bertemu dokter sebentar saja. Dilihatnya foto rontgen gigi saya, dan diputuskan bahwa mereka tidak bisa menangani kasus operasi pengangkatan kista. Saya pun di rujuk ke Jakarta, ke RSUD Pasar Minggu tepatnya.

Perjuangan 3: Bolak-balik Rawat Jalan

RSUD Pasar Minggu, Jakarta
Sumber: beritajakarta.id

Meskipun sudah bertekad untuk tidak menunda-nunda, dikarenakan kesibukan kerja, tetap saja saya kesulitan mencari waktu untuk rawat jalan. Senin sampai Jum’at, saya full di kantor, sehingga paling leluasa untuk pergi rawat jalan adalah di hari Sabtu. Untung saja jadwal rawat jalan di RSUD Pasar Minggu masih flexible, sehingga tidak mesti pada hari yang telah ditentukan. Yang perlu diingat adalah hari pengganti dimana kita datang itu masih pada minggu yang sama dan harus pada hari dimana dokter yang menangani kita juga sedang bertugas. Nah, alhamdulillahnya dokter yang menangani saya juga bertugas jaga klinik di hari sabtu. jadi deh hari sabtu menjadi hari rutin saya ke RSUD Pasar Minggu.

Sebelum mendapatkan jadwal operasi, saya hitung ada 5 kali saya melakukan rawat jalan:

  • Rawat Jalan 1: memberikan surat rujukan dari RSUD Depok, konsultasi dengan dokter spesialis bedah mulut, ambil sampel darah, dan janjian rawat jalan berikutnya
  • Rawat Jalan 2: Ambil hasil lab sampel darah, Foto rontgen dada, dan pemeriksaan EKG (denyut jantung)
  • Rawat Jalan 3: Ambil foto rontgen dada dan EKG untuk dikonsultasikan dengan dokter spesialis penyakit dalam
  • Rawat Jalan 4: Konsultasi dengan dokter anestesi
  • Rawat Jalan 5: Bertemu dengan dokter spesialis bedah mulut untuk mendapatkan jadwal operasi

Nah yang enak dari rawat jalan di RSUD Pasar Minggu itu, kita tidak perlu meluangkan waktu seharian di rumah sakit. Jika sampai rumah sakit sekitar pukul 08.00 pagi, insyaallah pukul 10.00 WIB kita sudah bisa pulang. Sistem antriannya sudah pakai mesin teman-teman, meskipun masih dioperasikan oleh petugas rumah sakit, tapi proses antrian sudah cepet banget deh. RSUD Depok kalah jauh banget.

Terkait penjadwalan operasi, ini dia yang teman-teman harus bersabar kalau mau menggunakan asuransi BPJS. Karena rata-rata lama antrian operasi bedah mulut di RSUD Pasar Minggu itu bisa sampai 2-3 bulan. Tapi untuk kasus-kasus tertentu bisa dipercepat bahkan kita bisa mendapatkan jadwal operasi seminggu setelah kita rawat jalan yang terakhir. Itu juga yang saya alami. Awalnya saya dijadwalkan operasi di 2 bulan berikutnya, karena dikira saya adalah pasien cabut gigi impaksi biasa. Begitu tahu bahwa saya memiliki kista di rongga mulut, jadwal operasi saya langsung dimajukan seminggu setelah rawat jalan terakhir. Fix hari selasa, tanggal 7 januari 2020 saya akan dioperasi.

Perjuangan Terakhir: Operasi dengan Bius Total

Sehari sebelum operasi, kita akan ditelpon oleh petugas di RSUD Pasar Minggu yang mengingatkan jadwal operasi kita sambil memberitahukan informasi ruang rawat inap kita. Karena saya PNS golongan III maka seharusnya saya memperoleh ruang rawat inap kelas I. Tapi karena penuhnya ruang rawat inap kelas I dan kelas II, maka saya dialihkan ke ruang rawat inap kelas III. “Ga pa pa deh, yang penting besok operasinya lancar”, doa saya.

Oh ya, kita juga diharuskan memiliki pendamping yang menemani kita saat rawat inap dan saat kita dioperasi. Karena saat itu, saya meminta ijin untuk berangkat sendiri ke rumah sakit dikarenakan istri saya harus menjaga 2 anak saya yang masih balita di rumah. Alhamdulillah ada keponakan saya di Bogor bisa direpotin untuk menjaga saya selama 3 hari kedepan di rumah sakit.

Panggilan operasi pun datang dari perawat di ruang rawat inap. Saya diinfus dan diminta memakai baju khusus operasi untuk kemudian dibawa ke kamar operasi. Letak perjuangan di tahap ini adalah menunggu antrian di luar kamar operasi yang luammma bangettt. Mungkin ada 2-3 jam kali ya..Saya sampai tertidur dan bangun beberapa kali saat itu.

Masuk kamar operasi, dada saya langsung dibuka, ditempel dengan bermacam-macam alat medis. Seorang dokter yang menurut saya seorang dokter anestesi berkata ke dokter lain bahwa ia akan mulai melakukan pembiusan. Dalam hati saya pun merasa penasaran seperti apa rasanya tidak sadarkan diri. Saya pun menunggu moment kesadaran saya hilang secara perlahan. Saya buka mata, dan ternyata saya sudah berada di kamar rawat inap…..”Operasinya sudah lama selesainya Om!”, kata keponakan saya. “Bener-bener nih biusnya…”, batin saya.

Itulah pengalaman operasi kista gigi dari saya. Karena memakai BPJS, otomatis saya tidak mengeluarkan uang sepeserpun. Jadi teman-teman ga perlu malu dan enggan ya menggunakan BPJS sebagai asuransi kesehatannya. Toh kita juga sudah membayarnya setiap bulan lewat pemotongan gaji bagi teman-teman yang berstatus sebagai karyawan dan dibayarkan oleh negara bagi teman-teman penerima BPJS PBI (Penerima Biaya iuran).

Terakhir, rajin-rajin jaga kebersihan mulut dan gigi ya teman-teman..

6 pemikiran pada “Operasi Kista Gigi dengan BPJS (Sebuah Pengalaman Pribadi)

  1. Kalau di totalkan dari rawat jalan pertama sampai ke fasa oprasi brapa lama ya? Di rsud pasming karna sy baru dapat rujukan untuk oprasi 2 gigi bungsu di sana

    Disukai oleh 1 orang

    • Kurang lebih 3 bulan, itupun karena saya mendapatkan “percepatan” jadwal operasi karena kedaruratan kondisi gigi saya.
      Kalau untuk kasus cabut gigi biasa, mungkin bulan Maret 2020 saya kemarin baru bisa operasi.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s