Mengapa mereka membully ?

Gambar ini diambil dari halaman republika.co.id

Baru-baru ini kita dihebohkan oleh sebuah video di media sosial tentang tindakan perundungan (bullying) beberapa pemuda terhadap seorang remaja penjual Jalangkote di Pangkep, Sulawesi Selatan.

Kita semua sangat sedih, bahkan geram, melihat peristiwa itu terjadi. Lebih lagi ketika kita mengetahui bahwa ternyata tindakan perundungan itu sudah mereka lakukan sebelumnya berulang-ulang kali.

Dalam video yang berdurasi hampir 2 menit itu, si remaja yang sedang berjualan mengendarai sepeda dikejutkan, dikejar, dan didorong hingga jatuh tersungkur bersama Jalangkote yang ia jual. Tidak cukup disitu, diiringi gelak tawa dan ejekan dari teman-temannya yang lain, salah satu dari mereka bahkan memukul kepala si remaja hingga ia terjatuh kembali.

Kita kemudian bertanya-tanya, apa sebenarnya yang mendorong para pelaku, yang notabene masih berusia muda, tega melakukan tindakan itu? Bagaimana bisa mereka terlihat menikmati dan bangga dengan penindasan yang mereka lakukan itu? Apakah mereka semua itu manusia yang normal? ataukah ada kelainan dalam kesehatan mental mereka?

Menurut penelitian lembaga donasi anti bullying, Ditch The Label, Alasan kuat seseorang melakukan tindakan perundungan adalah mereka mencari perasaan kuasa atas diri si korban. Cara yang paling mudah untuk melakukannya adalah dengan mencari sesuatu yang unik dari korban untuk kemudian digunakan sebagai objek ejekan dan hinaan hingga bahkan pada bentuk kekerasan yang menyakiti fisik diri si korban.

Sesuatu yang unik dari korban, bisa berupa bentuk fisik dari tubuh atau bagian tubuh, tinggi badan, berat badan, warna kulit, cara berbicara, cara berjalan, tingkat kecerdasan, almamater pendidikan, pekerjaan, status sosial/ekonomi, dan banyak hal lain yang sebenarnya adalah sesuatu yang wajar dan bahkan bisa jadi menjadi kelebihan korban dibandingkan manusia yang lain, tetapi karena tindakan perundungan, menjadikan keunikan tersebut nampak oleh si korban sebagai ketidaknormalan, aib, cacat, dan kekurangan yang tidak bisa diterima.

Si korban pun kemudian berusaha menutupi keunikan yang ada, mengurangi, mengubah, bahkan mencoba menghilangkannya dari diri mereka. Ia menganggap begitu keunikan itu hilang, hilang juga tindakan perundungan atas dirinya. Padahal yang ada adalah si korban telah kalah seketika ia merespon dengan cara seperti itu dan menjadikan pelaku justru tambah merasa berkuasa atas diri si korban.

Sebenarnya seseorang memperoleh tindakan perundungan bukan karena seseorang itu berbeda akibat keunikan yang ia miliki, tapi lebih karena mereka, para pelaku, memiliki beberapa hal negatif di bawah ini:

Stress dan Trauma

Ditch The Label pernah melakukan riset kepada 8.850 orang dengan menanyakan apakah diantara mereka pernah melakukan tindakan perundungan, dengan opsi jawaban yang bertingkat, dari tidak pernah, sesekali, hingga yang sering melakukan perundungan setiap harinya. Mereka semua kemudian diamati aspek stress dan trauma, kehidupan keluarga, hubungan dengan teman, dan bagaimana mereka melihat diri mereka sendiri.

Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa mereka yang sering melakukan tindakan perundungan, memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak dibandingkan rata-rata manusia lain akan kondisi stress dan trauma. Pengalaman stress dan trauma itu bisa mereka dapatkan dari pola asuh yang salah, perceraian orang tua, pengalaman kehilangan anggota keluarga, kelahiran adik/anggota keluarga yang tidak diinginkan, dan beberapa hal lain yang tidak bisa diterima dengan baik oleh mereka.

Beberapa diantara kita mungkin bisa menyikapi dengan baik kondisi stress dan trauma, misal dengan menyalurkannya pada kegiatan olahraga, meditasi, terapi bicara, atau kegiatan positif lain. Tetapi beberapa orang lain mungkin tidak bisa, hingga kemudian mereka merespon kondisi stress dan trauma yang dialaminya dengan tindakan negatif seperti meminum alkohol, menggunakan narkoba, berkelahi, dan salah satunya dengan melakukan tindakan perundungan.

Memiliki Kebiasaan Agresif

Fakta dari riset ini patut kita renungkan bersama. Besar kemungkinan kebiasaan agresif ini diperoleh dari kebiasaan di lingkungan keluarga yang mengedepankan agresivitas sebagai solusi atau paling tidak sebagai katalis penyelesaian masalah. Membentak, marah, mengancam, dan memukul adalah perilaku yang sering kita dapati di beberapa keluarga. Perilaku semacam ini mudah sekali dikopi ke luar lingkungan keluarga, dalam pergaulan sehari-hari, dalam bentuk tindakan perundungan.

Memiliki Kepercayaan Diri yang Rendah

Seseorang yang memiliki kepercayaan diri yang rendah merasa belum siap apabila suatu saat perhatian negatif tertuju kepada mereka. Alih-alih memperkuat konsep diri, sebagian mereka justru sering mengalihkan perhatian kepada orang lain, mencoba menemukan sesuatu untuk di-ekpose dan dijadikan objek perundungan untuk menyelamatkan diri mereka dari kemungkinan tindakan yang sama.

Pernah Menjadi Korban Bullying

Berikutnya riset lembaga Ditch The Label juga menunjukkan bahwa mereka yang pernah menjadi korban perundungan memiliki kemungkinan 2 kali lebih tinggi untuk berubah menjadi pelaku perundungan. Hal itu sebenarnya sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri seseorang. Dengan menjadi pelaku, ia menganggap tidak akan lagi menjadi korban perundungan.

Tidak Memiliki Kehidupan Keluarga yang Baik

1 dari 3 pelaku perundungan mengaku berada di kehidupan keluarga yang ‘sulit’. Beberapa diantara mereka mengaku tidak dekat dengan sosok ayah dan ibu mereka, mendapatkan pola asuh yang mengedepankan kekerasan, dan merasa memperoleh penolakan di keluarga mereka sendiri.

Berada di Lingkungan yang Menganggap Bullying adalah Perilaku yang Wajar

Mereka, para pelaku, biasanya berada pada pergaulan yang menganggap tindakan perundungan bisa menjadi cara memperoleh keakraban dengan sesama. Dirimu tidak akan mencapai posisi yang benar-benar dekat dengan seseorang apabila belum berani meng-ekspose sesuatu yang tidak menyenangkan dari seseorang itu untuk ditertawakan bersama. Pola pergaulan yang seperti itu pada akhirnya menciptakan lingkaran setan perundungan antar sesama anggota di suatu komunitas, hingga menjalar ke orang lain di luar komunitas mereka.

Akhirnya kita mengetahui apa yang melatarbelakangi seseorang melakukan tindakan perundungan. Setelah membaca beberapa paragraf diatas, saya kira tidak berlebihan jika anda mengambil kesimpulan bahwa mereka, pelaku perundungan, juga adalah korban. Korban dari perilaku dan pengalaman negatif yang mereka terima dari lingkungan sekitar mereka.

Saya berharap kita semua turut mengambil bagian menciptakan lingkungan yang nyaman untuk sesama kita. Adalah Rasulullah SAW pernah bersabda: “Seburuk-buruk manusia adalah ia yang orang lain merasa terancam akan kehadirannya”.

 

sumber: ditchthelabel.org

4 pemikiran pada “Mengapa mereka membully ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s