Paradoks Tradisi Ngopi dan Produktivitas Kerja

Gambar diambil dari halaman ajnn.net

Beungoh singoh geutanyoe jep kupi di keude Meulaboh atawa ulon akan syahid”. Besok pagi kita akan minum kopi di Meulaboh atau aku akan syahid adalah perkataan yang sangat masyhur dari Teuku Umar sesaat sebelum menghadapi serangan Belanda di Kota Meulaboh. Kata “jep kupi” dalam perkataan itu, tampaknya cukup menjadi bukti bahwa minum kopi telah menjadi tradisi di Aceh sejak dulu. Kini, tampak tak ada yang berkurang, minum kopi bahkan semakin digandrungi masyarakat Aceh seiring dengan banyaknya penelitian yang membuktikan manfaat minum kopi bagi kesehatan, kreatifitas, dan produktivitas kerja.

Tidak bermaksud meragukan hasil penelitian diatas, tapi saya yakin selalu ada kondisi dimana manfaat dari sesuatu tidak dapat diraih manakala sesuatu itu dilakukan secara “berlebihan”. Tak terkecuali juga dengan minum kopi (ngopi), alih-alih manfaat, ternyata justru mudharat yang didapat. “Berlebihan” disini tidak hanya mengenai intensitas/frekuensi ngopi saja, tetapi lebih luas lagi mengenai pola dan kebiasaan turunan dari ngopi itu sendiri. Dalam hal pengaruh kopi terhadap produktivitas kerja misalnya, pola ngopi yang ada selama ini dikhawatirkan tidak mampu membuktikan adanya manfaat kopi bagi produktivitas kerja. Bukannya produktivitas, justru rasa malas yang terlihat. Beberapa pola dan kebiasaan turunan ngopi yang “berlebihan” tersebut diantaranya:

Terlalu lama di kedai kopi

Saya menyadari bahwa ngopi tidak mungkin dilakukan hanya dengan satu-dua tegukan, tanpa berlama-lama, kemudian membayar ke kasir dan langsung pulang. Kalau seperti itu, bukan ngopi namanya. Sensasi ngopi sebenarnya tidak hanya ada pada kopinya saja, tetapi juga pada obrolan, sendau-gurau, silaturahmi dalam suasana yang nyaman dan santai, serta pada banyak hal lain yang menyertai aktivitas ngopi itu sendiri.

Obrolan yang ringan dan rileks saat kita ngopi sering memunculkan ide-ide kreatif yang bisa jadi tidak terpikirkan saat kita duduk dibalik meja-meja formal. Akan tetapi seperti sifat kebanyakan obrolan, obrolan yang produktif di kedai kopi juga memiliki batas durasi tertentu. Manakala melewati batas durasi tersebut biasanya obrolan menjadi jenuh, melebar, dan cenderung hanya untuk menghabiskan waktu.

Pekerjaan para penikmat kopi ini juga tidak melulu soal mencari ide-ide kreatif, tetapi juga banyak diantara mereka yang pekerjaannya mengharuskan mereka memiliki cukup waktu di kantor agar bisa mengeksekusi program/rencana yang telah disusun oleh instansi atau perusahaan tempat mereka bekerja. Diantara mereka adalah PNS, baik instansi vertikal maupun PNS pemerintahan Aceh, yang setiap detik di jam kerjanya dibayar dari uang pajak rakyat. Untuk mereka ini, semakin lama berada di kedai kopi berarti semakin banyak jam kerja atau pekerjaan yang mereka tinggalkan dan semakin banyak pula uang rakyat yang mengalir ke mereka untuk kesia-siaan.

Procaffeinating (Prokafeinasi)

Adalah kecenderungan seseorang untuk tidak memulai kegiatan apapun kecuali telah disediakan secangkir kopi dihadapannya. Kondisi ini menimpa mereka yang terbiasa mengkonsumsi kopi secara berlebihan. Mereka merasa belum utuh menjadi manusia sebelum meminum kopi, rentan marah jika seseorang berani bicara sebelum agenda kopi pagi selesai, dan menjadi malas bekerja jika belum bertemu dengan secangkir kopi.

Pada taraf ini mereka sudah memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap kopi. Mereka merasa harus meminum kopi untuk membuat tubuh mereka segar dan untuk membantu mereka mengerjakan sesuatu, bahkan untuk pekerjaan yang sangat sederhana sekalipun. Kondisi seperti ini sudah dapat disebut sebagai kondisi “kecanduan”. Dalam kaitannya dengan produktivitas kerja, kondisi mereka ini menjadi kontrapoduktif. Alasannya sederhana yaitu saat seseorang mengalami kondisi seperti ini maka produktivitasnya menjadi sangat bergantung pada ada tidaknya kopi disampingnya.

Tidak bijak dalam mengkonsumsi kopi

Kebanyakan orang setuju bahwa kopi membantu mereka merasa menjadi lebih baik, terutama saat mereka terbangun dengan perasaan yang sangat lelah. Sayangnya apabila konsumsi kopi dilakukan secara berlebihan,  efek “anti-kelelahan” dari kopi ternyata juga memiliki efek samping yang cukup berbahaya.

Efek kafein biasanya berlangsung selama beberapa jam, tergantung pada individu yang mengkonsumsinya, sehingga mengkonsumsi kopi menjelang tidur malam dapat mengganggu kemampuan tidur seseorang di malam itu. Hal ini membuat seseorang memiliki lebih sedikit jam tidur, membuatnya minum lebih banyak kopi untuk mengatasi kelelahan (akibat kurang tidur) pada hari berikutnya, dan menciptakan lingkaran setan yang dapat membuatnya lebih lelah dari kondisi sebelumnya. Akhirnya, hal itulah yang akan mengurangi produktivitasnya.

Bergeming meski adzan memanggil

Kita tentu sependapat dengan definisi istirahat menurut Nabi SAW, yaitu ketika beliau berkata kepada Bilal Bin Rabbah: “Wahai Bilal…istirahatkan kami dengan shalat”.

Istirahat adalah cara terbaik untuk me-recharge energi untuk kita kemudian dapat kembali beraktivitas dengan energik. Istirahat terbaik bagi seorang muslim tentu saja adalah shalat. Maka tatkala shalat usai, hati kita akan ringan, tenang, tentram, dan kitapun siap kembali mengarungi hidup kita, seberat apapun. Shalat telah me-recharge kita, energi yang tadinya hampir habis, berada di titik terendah, telah terisi kembali dengan energi positif yang membuat kita lebih produktif.

Penikmat kopi yang tetap bergeming meski adzan memanggil lalai dengan hal diatas. Mereka sanggup berjam-jam ngopi tetapi tidak mampu meninggalkannya 5 menit saja untuk shalat. Disaat yang bersamaan, sebenarnya mereka telah melewatkan cara yang paling ampuh untuk melipatgandakan produktivitas mereka melebihi yang bisa dilakukan oleh kopi.

Jadi tidak semua ngopi membuat kita lebih produktif. Pilihannya jatuh pada masing-masing kita. Apakah ngopi dengan bijak dan cerdas ataukah dengan sembarangan dan ‘’berlebihan”. Tergantung pada kita. Karena kita yang memilih, kita juga yang akan menanggung resikonya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s