Belajar Berintegritas dari Anak Muda Bernama Charlie

Gambar diambil dari halaman wikipedia.org

Jika kalian mengira film ini seputar cinta dan wanita, maka kalian salah. Antara judul film ini dan cerita yang disampaikannya, memang bisa dibilang tidak ada kaitannya sama sekali. Kecuali pada kemampuan unik salah satu karakter utama di film ini yang mampu menebak secara tepat merk parfum wanita hanya dari aroma yang ia cium.

Film ini dirilis pada tahun 1992. Saya sendiri pertama kali menontonnya ketika saya masih SMA. Puas dan termotivasi adalah perasaan yang saya rasakan saat pertama kali menonton film ini. Hingga sekarang, jika sedang merasa butuh motivasi, saya masih sering melihat cuplikan-cuplikan scene film ini di Channel YouTube.

Bermula dari seorang yang bernama Charlie Simms (diperankan oleh Chris O’Donnell), pemuda yang bersekolah di Baird School, sebuah Sekolah Menengah paling Bonafit dan eksklusif di Amerika. Charlie yang tidak seperti kebanyakan teman-temannya, berasal dari keluarga biasa. Sebagian besar pembiayaan pendidikannya di sekolah itu mengandalkan uang beasiswa yang ia dapat. Di musim liburan sekolah, ketika teman-temannya banyak mengisinya dengan agenda liburan, Charlie memilih mengisinya dengan bekerja untuk mendapatkan uang tiket pulang menuju kampungnya di Oregon.

Dari pekerjaan yang diambil Charlie di masa libur itulah, inti cerita di film ini bermula. Awalnya Charlie mengira pekerjaan ini akan berjalan dengan mudah, karena ia hanya bertugas menemani seorang pria tua untuk beberapa hari selama keluarganya pergi berliburan. Tak disangka pria tua itu adalah seorang purnawirawan Kolonel yang buta, kasar, dan bermulut kotor. Pria tua itu adalah Kolonel Frank Slade (diperankan oleh Al Pacino).

Dibalik sikap kasarnya, Sang Kolonel ternyata menyimpan “luka” yang terus ia pelihara. Luka itu berasal dari kekecewaannya atas pencapaian hidupnya yang ia anggap gagal. Dibayang-bayangi kejayaan masa lalunya sebagai seorang petinggi militer, ia kini hidup menyedihkan. “Gelap” adalah kata yang digunakan Sang Kolonel untuk hidupnya yang sekarang, bukan karena matanya yang kini tak mampu melihat, tapi lebih karena kehidupannya yang ia anggap suram.

Jauh sebelum bertemu dengan Charlie, Sang Kolonel ternyata telah merencanakan petualangan untuk mengakhiri hidupnya dengan bersenang-senang terlebih dahulu. Jadilah Charlie terperangkap di ”pesta” petualangan Sang Kolonel tanpa ia ketahui.

Charlie sebenarnya memiliki masalahnya sendiri. Sebelum memasuki masa liburan, Charlie dan temannya George (diperankan oleh Philip Seymour Hoffman) melihat tiga teman mereka memasang jebakan di halaman sekolah untuk mempermalukan Mr. Trask (diperankan oleh James Rebhorn), seorang Guru yang tidak disukai di sekolah itu. Mr. Trask pun memaksa Charlie dan George untuk mengatakan siapa pelaku dibalik tindakan memalukan atas dirinya itu. Dilema bagi Charlie dan George, karena apabila mereka mengatakan siapa pelakunya, maka selamanya mereka akan dicap sebagai seorang pengadu oleh teman-temannya, mereka tidak akan pernah mendapat tempat di pertemanan anak-anak Baird School yang super ekslusif itu. Sebaliknya jika tidak memberitahu, maka mereka akan berhadapan dengan Mr. Trask dan Komite Sekolah.

George dalam hal ini tidak memiliki beban seberat Charlie. Dengan pengaruh ayahnya yang kaya, ia tidak akan mudah diintimidasi oleh Mr. Trask. Charlie di sisi lain berada di situasi yang menguji keteguhan mentalnya. Berkali-kali ia diancam Mr. Trask dengan ancaman akan ditarik seluruh beasiswa yang selama ini ia dapat. Gagal dengan cara itu, Mr. Trask beralih mengiming-imingi Charlie dengan bantuan “Akses Masuk Khusus” menuju perguruan tinggi yang ia idam-idamkan selama ini, yaitu Harvard University, perguruan tinggi terbaik di Amerika.

Petualangan Kolonel Frank Slade bersama Charlie akhirnya berada di terminal akhir. Sayangnya dia salah memilih teman untuk petualangannya itu. Di titik penghabisan, Charlie mengacaukan rencana matang dari Sang Kolonel. Tidak mudah dalam melakukannya, Charlie harus melalui perdebatan panas dengan ancaman peluru dari Sang Kolonel. ” Give me one reason not to ?” kata Sang Kolonel. ” I’ll give you two, you can dance a tango and drive Ferari better than anyone i’ve ever seen.” Jawab Charlie lugu dengan nafas terengah-engah di bawah todongan pistol Sang Kolonel. Mendengar jawaban Charlie, Sang Kolonel mulai mendingin. Ada nuansa aneh yang ia rasakan. Charlie seolah mengajarkan padanya, sekacau apapun hidupmu kau selalu berhak untuk hidup. Jika situasi mendesakmu untuk menyerah, maka menyerah saja, lakukan sesuatu yang kamu suka, tapi kau harus tetap hidup.

Charlie sebenarnya bisa pergi begitu saja, tidak perlu mencampuri urusan penting Sang Kolonel untuk mengakhiri hidupnya. Tepat setelah agenda bersenang-senang sang kolonel selesai, sebenarnya selesai juga kontrak kerja antara Charlie dan Sang Kolonel. Tapi Charlie memiliki “nilai” yang membuatnya berbeda dari pemuda seumurannya. Charlie tetap kembali ke hotel dimana mereka menginap dan menemukan Sang Kolonel hampir membunuh dirinya. “Nilai” yang dimiliki Charlie itu nantinya yang akan ia tunjukkan juga, ketika ia disidang oleh komite sekolah dihadapan seluruh siswa Baird School. Dengan ancaman dikeluarkan dari sekolah, ia tetap bergeming, tidak ingin menyebutkan nama pelaku tindakan yang mempecundangi Mr. Trask di halaman sekolah musim lalu.

Ketika Charlie sudah pasrah dengan nasib yang akan ia terima. Kolonel Frank Slade, datang dengan bersetelan jas hitam elegan. Membela Charlie di hadapan anggota komite sekolah dengan pidato yang sangat kuat dan menyentuh. Scene pidato dari Sang Kolonel ini oleh beberapa Channel YouTube bahkan ditempatkan sebagai one of greatest movie speeches.

Apa yang dilakukan Charlie dengan memilih diam saja, tidak mau menyebutkan nama pelaku penistaan terhadap Mr. Trask bisa kita perdebatkan sebagai tindakan yang benar atau salah. Tapi yang ingin disampaikan di film ini adalah bagaimana Charlie menunjukkan bahwa masa depannya tidak bisa dibeli oleh ancaman atau iming-iming dari orang lain. itulah yang oleh Kolonel Frank Slade, ia sebut sebagai integritas. Jika klaim Baird School sebagai pencetak generasi unggul, melahirkan pemimpin berkelas dunia adalah klaim yang benar. Maka siswa seperti Charlie inilah yang harus dipertahankan.

Film ini ditutup dengan adegan tepuk tangan yang gemuruh dari seluruh siswa atas keputusan sidang komite yang membebaskan Charlie dari seluruh jeratan Mr. Trask. Tak berapa lama, Cristine Downes (diperankan oleh Francess Conroy), seorang guru perempuan yang anggun, di akhir adegan film ini menghampiri Sang Kolonel, menyampaikan kekagumannya atas pidato yang luar biasa yang ia sampaikan untuk membela Charlie. Sang Kolonel merespon dengan sangat elegan. “Fleur de Rocaille”, Kata Sang Kolonel. Cristine pun mengangguk takjub sembari tersipu, tanda bahwa Sang Kolonel dengan tepat telah menebak parfum yang ia pakai.

2 pemikiran pada “Belajar Berintegritas dari Anak Muda Bernama Charlie

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s